Seberapa keji dan sakit kau ditindas, menulislah dengan berani. Sebab ketakutan itu sendiri sudah merupakan penyakit. Ungkapan Pramoedya Ananta Toer tersebut, menginsyaratkan makna pada deep & surface structure yang patut kita renungkan. Bahwa usahamu untuk memahat prasastimu (tulisan) tidak bisa dibendung oleh arus regresif, penindasan, bahkan kekerasan.
Menulislah apa saja, karena itu adalah hakmu, seperti kamu berhak dan merdeka untuk apapun yang membentuk rasa, fikir serta lakumu. Namun menulismu, ariflah untuk tidak sekedar menggoreskan alunan pena pembentuk makna, yang hanya berisi kenyataan, lebih penting lagi adalah muatan kebenaran didalamnya. Bagimu yang semakin skeptis dengan negaramu, Adorno menasihati kita bahwa, bagi orang yang tak lagi mempunyai tanah air, maka menulis adalah tempat tinggalmu.
Berita Lengkapnya di http://www.murianews.com/2015/10/26/57166/tumbuhkan-budaya-menulis-ma-nu-miftahul-ulum-buat-workshop-jurnalistik.html
Berita Lengkapnya di http://www.murianews.com/2015/10/26/57166/tumbuhkan-budaya-menulis-ma-nu-miftahul-ulum-buat-workshop-jurnalistik.html




Tidak ada komentar:
Posting Komentar