Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu mengembangkan kualitas pendidikanya. Tentu kalimat tersebut tidak asing dibenak kita, namun terkadang sering kita sepelekan. Kiranya benar ungkap kalimat tersebut, bahwa pendidikan memegang peranan penting dalam membangun peradaban suatu bangsa. Berbicara tentang pendidikan, berarti kita sedang membicarakan masa depan sebuah bangsa dalam prospek jangka panjang, dan salah satu aktor penting dalam kesuksesan pendidikan, yaitu guru.Besarnya alokasi anggaran pendidikan sebesar 20% dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) membuat profesi guru menjadi semakin prestisius. Hal tersebut diimplementasikan dalam berbagai program seperti sertifikasi, pelatihan profesi guru, kualifikasi, pendidikan profesi dsb. Besarnya kompensasi tersebut seharusnya diimbangi dengan peningkatan kualitas guru di Indonesia, mengingat mulianya amanat yang diemban oleh seorang guru. Namun, belakangan, fungsi esensial guru sering dipertanyakan. Mengingat trendyang berkembang, guru hanya terhenti pada orientasi profetik untuk mengumpulkan pundi-pundi Rupiah saja, bukan pengabdian sebagai wakil Tuhan di dunia.
Di dalam kepercayaan Jawa dijelaskan tentang makna guru sejati sebagai penuntun jalan hidup seorang manusia. Guru Sejati adalah proyeksi dari rahsa/rasa/sirr yang merupakan rahsa/sirr yang sumbernya adalah kehendak Tuhan, terminologi Jawa menyebutnya sebagai Rasa Sejati. Dengan kata lain rasa sejati sebagai proyeksi atas “rahsaning” Tuhan (sirrullah). Sehingga tak diragukan lagi bila peranan Guru Sejati akan “mewarnai” energi hidup atau roh menjadi energi suci. sukma sejati, telah mendapat “petunjuk” Tuhan yang dalam konteks ini hakikat rasa sejati, maka peranan roh tersebut tidak lain sebagai “utusan Tuhan”.
Kepercayaan tersebut merupakan perumpamaan tentang betapa mulia dan sucinya seorang guru sejati. Tanpa mengesampingkan nuansa mistisisme Jawanya, serat tersebut mengajarkan kita untuk mencari dan menemukan guru sejati, baik dari diri sendiri, ataupun orang lain. Guru sejati yang memilki sifat Pamomongdan fungsi sebagai resources atau sumber “pelita” kehidupan.Guru menjadi sumber inspirasi dan patunjuk jalan dalam kegelapan dan embun penyejuk dalam kekeringan pengetahuan.
Seorang pendidik yang baik, tidak hanya efektif dalam kegiatan belajar mengajar di kelas saja (transfer of knowledge), tetapi lebih-lebih dalam relasi pribadinya dan “modeling”nya (transfer of attitude and values), baik kepada peserta didik maupun kepada seluruh anggota komunitas sekolah. Hal tersebut tentu merupakan implementasi dari tuntutan kompetensi yang harus dimiliki seorang guru, yakni pedagogis, profesional, kepribadian dan kompetensi sosialnya. Kesemuanya tidak dapat dipisahkan dari diri seorang pendidik. Sehingga dalam suasana belajar, guru mampu membentuk pribadi-pribadi yang berkembang secara optimal dan relatif tanpa hambatan karena berada dalam suasana yang penuh cinta (unconditional love), hati yang penuh pengertian (understanding heart) serta relasi pribadi yang efektif (personal relationship) diantara semua komponen penyelenggara pendidikan.
Guru seharusnya mampu menjangkau setiap dimensi kecerdasan yang dimiliki oleh peserta didiknya, bukan justru mengekang bakat anak untuk berkembang sesuai dengan passionnya. Karena pada hakikatnya pendidik adalah seorang fasilitator. Fasilitator baik dalam pengembangan aspek kognitif, afektif, psikomotorik, maupun konatif. Seorang pendidik hendaknya mampu membangun suasana belajar yang kondusif dan mandiri (self-directed learning). Ia juga hendaknya mampu menjadikan proses pembelajaran sebagai kegiatan eksplorasi diri. Galileo menegaskan bahwa sebenarnya kita tidak dapat mengajarkan apapun, kita hanya dapat membantu peserta didik untuk menemukan dirinya dan mengaktualisasikan dirinya. Setiap pribadi manusia memiliki “self-hidden potential excellence”(mutiara talenta yang tersembunyi di dalam diri), tugas pendidikan yang sejati adalah membantu peserta didik untuk menemukan dan mengembangkannya seoptimal mungkin.
Pelajaran yang dapat kita ambil adalah, menjadi guru tidak semudah yang dibayangkan. Karena guru merupakan aktor penting penentu keberhasilan dalam belajar. Guru sejati tidak hanya menjadikan peranya sebagai sebuah profesi belaka, atau lebih parahnya untuk mencari kekayaan. Namun lebih dari itu, mendidik merupakan pengabdian dan amanat yang diberikan Tuhan untuk menerjemahkan nilai-nilai ketuhanan kepada umat manusia lainya.
Hadirnya guru sejati dapat memberikan harapan bagi kemajuan pendidikan nasional. Pendidikan ideal seperti konsep Ki Hadjar Dewantara yang berorientasi pada berkembangnya tri saksi jiwa, yakni cipta, rasa dan karsa. Serta terciptanya kakarater peserta didik yang mengaplikasikan konsep tri nga, yaitu ngerti, ngrasa, nglakoni, yang berarti didalam hidupnya berkembang secara baik kecerdasan hati, fikir dan lakunya. Hingga pada puncaknya, dapat menjadi manusia Indonesia yang tetep antep mantep (memiliki ketetapan hati, memiliki bobot dan tetap pada pilihanya), ngandel kandel kendel (percaya kepada Tuhan dengan utuh, sehingga berani menghadapi sesuatu karena benar dan tidak mudah putus asa) dan ning neng nung nang (hening, meneng, hanung, menang, dengan fikiran yang tenang, tidak emosi, memiliki keteguhan hati, maka akan memperoleh kemenangan). Sehingga pada puncaknya, peserta didik akan benar-benar menjadi insane paripurna sebagai manusia ideal dan jawaban atas amanat Tuhan di dunia.
Mohammad Andi Hakim, Praktisi Pendidikan, Direktur The Institute of Culture and Education Studies (ICES), Founder Sekolah Alternatif Gubuk Ilmu sahabat Fikir (GISAF) Brebes, Mahasiswa Magister Linguistik Program Pacasarjana Universitas Diponegoro. 085642689077, andyhachim@gmail.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar