Puji syukur kehadirat Allah Azza wa Jalla yang telah memberikan nikmat iman, Islam dan ihsan kepada kita sekalian. Sehingga dibuminya yang indah nan agung, lahir dan batin kita masih berselancar mengarungi skenarioNya. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah saw, keluarga, sahabat dan kita sebagai penerus estafet perjuangan baginda Nabi teladan purna umat manusia.
KH. Akhmad Tarsyudi, sebuah nama yang barangkali popular bagi masyarakat Brebes pada umumnya, dan lebih khusus masyarakat Songgom. Salah satu perintis lahirnya pendidikan Islam didaerah tersebut. Kehadiranya membawa angin kesejukan dengan ilmu dan Islam. Beliau hadirkan Islam ditengah masyarakat yang belum mengerti agama dan masih hidup dalam kubangan lumpur ke-jahiliyah-an. Dengan ilmu, beliau bangun pondasi kehidupan masyarakat, memperkokoh peradaban yang cerah dan terarah.
Tidak heran kemudian, jika penulis yang merupakan salah satu cucunya mengibaratkan sosoknya bak ‘Damar Peradaban’. Seperti Damar yang memberikan nyala terang, Si Mbah (panggilan penulis terhadap beliau) mengajarkan ilmu agama dari desa ke desa jauh berkilo-kilo meter. Si Mbah meneladani betul perjuangan Rasulullah saat menyebarkan syiar keIslaman yang penuh liku dan tantangan. Si Mbah pun merasakanya. Perjuangannya dalam mendidik masyarakat, mengangkat derajat masyarakat dan mengentaskannya dari kebodohan mendapat tantangan cukup serius. Intimidasi secara psikis dan fisik Si Mbah rasakan betul hingga akhir hayatnya.
Buku ini jauh menggambarkan keteladan hidup dan pribadi Si Mbah sebagai salah satu manusia langka di dunia. Berislam yang tidak hanya tercermin melalui tutur kata, seperti kebanyakan ulama saat ini. Lebih dari itu, Islam nampak begitu memancar dalam hati, fikir dan perilaku keseharianya. Ramah, santun, sederhana, ikhlas, tidak pendendam dan segala sikap baik mengalir dalam darah dan nadi kehidupanya. Tidak lupa senyum yang selalu berhias pada wajahnya setiap waktu, menemani sikap bersahajanya dalam segala hal.
Selain kepribadian Si Mbah yang diceritakan dalam buku ini, penulis mengelaborasi simpul-simpul kisah dan perjuanganya dalam bidang pendidikan Islam. Gelar Bapak Pendidikan Islam Brebes tentu tidak main-main. Karena jasanya merintis lembaga-lembaga pendidikan Islam di Brebes, menempatkanya sebagai salah satu ulama berpengaruh. Si Mbah membangun peradaban ilmu dari pintu ke pintu, dari surau ke surau, dari ladang ke ladang, sebelum akhirnya mampu mendirikan Madrasah dan Pondok Pesantren.
Oleh karena itu, buku ini menguraikan kisah hidup Si Mbah dan keluarganya, kisah-kisah pesantren dan para guru yang mendidiknya, kepribadian dan sejarah perjuanganya dalam berbagai bidang kehidupan, serta lebih khusus bercerita mengenai sejarah berdirinya Pondok Pesantren Al-Falah. Pondok yang didirikanya tersebut merupakan salah satu pesantren tertuan di Brebes.
Sekedar lulusan HIS tidak menghambatnya untuk memiliki pemikiran dan konsep pendidikan yang ideal bagi masyarakatnya. Bahwa agama menjadi dasar paling penting dalam segala sendi kehidupan. Agama musti ditanamkan dan diajarkan sedini mungkin, sebelum anak mengenal dunia luar. Oleh karenanya pendidikan agama menjadi concern nya dalam membangun masyarakat.
Hal inilah yang kemudian menjadi teladan bagi generasi penerusnya. Sehingga kini pesantren yang didirikanya mampu berkembang pesat dengan beragam model pendidikan. Diantaranya; Pondok Pesantren Al-Falah Sofwaniyah, Pondok Pesantren Al-Falah Salafy, Pondok Pesantren Modern Al-Falah, Pondok Pesantren Al-Qur’an Gumawang, Yayasan Pendidikan Islam at-Thohiriyyah dan Gubuk Ilmu Sahabat Fikir (GISAF). Sebuah pencapaian yang barangkali fenomenal dari seorang Kiai kampung yang hidup dengan penuh kesederhanaan. Lebih dari itu, masyarakat Jatirokeh-Songgom kini disulapnya menjadi generasi Islami dan terdidik. Karena atas jasanya melahirkan lembaga pendidikan untuk semua tingkatan. Si Mbah Kiai, benar-benar Damar Peradaban.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar