Problematika yang muncul dan berkembang didunia pedidikan kita seakan tidak paripurna. Masalah-masalah pendidikan tumbuh bak jamur dimusim semi. Kekerasan dalam pendidikan, paradigma dan visi pendidikan, komersialisasi, politik penidikan, hingga kurikulum dan perangkat pendidikan lainya seakan membuka ruang kritik bagi setiap pemerhati pendidikan. Skeptisisme muncul merespon peradaban bangsa yang pernah memiliki sejarah emas dan diakui dunia ini, perlahan berlari kebelakang memunggungi peradaban. Padahal, segala bangsa sedang berupaya membangun rumah peradabanya dimasa depan, kita masih terkungkung dalam budaya regresif yang jauh dari kata maju.
Kritik tulisan ini bukan tanpa alasan, dan bias saja menuai pro dan kontra terhadapnya. Kegelisahan yang muncul dibenak penulis berangkat dari kegeraman akan ejakulasinya bangsa ini mempersiapkan laju perkembangan pendidikan. Idealitas tujuan pendidikan nasional sejatinya telah termaktub dalam UU No 20 tahun 2003 tentang system pendidikan nasional, yang menyebutkan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yag beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
Deretan frasa membentuk kata dan kalimat memberikan arti yang mendalam tentang visi mulia pendidikan nasional. Lantas apa yang menjadi masalah?. Hemat penulis masih terjadi kemacetan antara konsepsi dengan realitas. Kritik penulis tertuju pada interpreter dalam memahami dan membangun kesadaran bersama terhadap teks ‘suci’ bernama undang-undang tersebut. Sebagian kita masih menganggap bahwa visi tersebut tak lebih hanya sebagai tumpukan kertas tak berarti yang memenuhi sebagian ruang kosong di lembaga pendidikan. Penting untuk membangun kesadaran bersama tentang aspek terpenting dalam membangun pendidikan yang berkualitas, yakni membagun manusianya.
Islam memiliki konsepsi pendidikan yang ideal dan dapat menjadi rujukan bagi setiap praktisi dan pemerhati pendidikan. Meskipun dalam beberapa hal kita akan menemukan relevansiya dengan teori pendidikan barat maupun dengan gagasan tokoh pendidikan nasional sekaliber Ki Hajar Dewantara. Gagasan-gagasan tersebut kiranya saling berpadu dan saling pengaruh-mempengaruhi. Namun intinya, kesemuanya membelajarkan kita tentang manusia sebagai hal terpenting dalam pendidikan.
Islam menempatkan posisi dan peran manusia dalam pendidikan adalah : Pertama, manusia adalah makhluk Tuhan yang sempurna, yang terdiri dari tiga dimensi yaitu dimensi fisik (jasmani), dimensi akal dan dimensi ruhaniyah, yang kesemuanya itu sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan; Kedua, Manusia adalah makhluk yang dinamis (becamming) yang selalu berproses untuk mencapai kesempurnaan, tidak hanya being; Ketiga, Kedudukan manusia adalah sebagai pemimpin, pengelola dan pemegang amanat Tuhan dimuka bumi (khalifatullah fil ard), dan sebagai hamba (abdun).
Ketiga konsep tersebut meniscayakan tercapainya tujuan membentuk manusia paripurna (insane kamil). Manusia sempurna yang mampu berkembang dengan baik dimensi fisik, akal dan ruhaninya. Manusia yang berlaku sebagai pembelajar dan memiliki nalar dinamis untuk bermakna mencapai kesempurnaan, tidak hanya berdiam diri untuk menunjukan eksistensinya. Dan tidak kalah penting, manusia diamanatkan oleh Tuhan sebagai makhluk paling sempurna bukan tanpa alasan, karena tanggung jawabnya sebagai pemimpin dalam menafsirkan nilai-nilai ketuhanan di muka bumi, sekaligus sebagai hamba yang taat kepada perintahnNya.
Sejaan dengan tujuan pendidikan nasional, konsep pendidikan dalam Islam berorientasi pada upaya individu untuk mencapai kehidupan yang lebih sempurna, kabahagiaan hidup, cinta tanah air, kekuatan raga, kesempurnaan etika, sistematika dalam berpikir, tajam berperasaan, giat dalam berkreasi, toleransi pada orang lain berkompetisi dan trampil dalam beraktifitas. Hal tersebut dicapai dengan dasar falsafah agama bahwa setiap individu dilahirkan dalam keadaan fitrah, artinya manusia dilahirkan dalam keadaan putih, selanjutnya proses pendidikan dan lingkungan lah yang akan membentuk pengetahuan dan karakter setiap manusia.
Konstruksi pemahaman kita sebagai pendidik harus tepat dalam memperlakukan peserta didik, meskipun terkadang tidak semuanya relevan dengan aturan administratif yang diwajibkan oleh otoritas pendidikan nasional untuk membentuk manusia sempurna seutuhnya. Muhaimin dan Abd Mujib menjeskan tujuan pendidikan Islam adalah sangat verbal, yaitu terbentuknya insan kamil, manusia universal yang mempunyai wajah-wajah Qurani, insan kaffah yang mempunyai dimensi religius, budaya dan ilmiah dan penyadaran fungsi manusia sebagai hamba, khalifah serta warastatul anbiya, dan memberikan bekal yang memadahi dalam rangka pelaksanaan fungsi tersebut.
Upaya mencapai ekspektasi untuk membentuk manusia ideal tersebut tentunya harus diterjemahkan dalam wilayah praksis, agar tidak menjadi konsep yang mengawang. Wujud usaha yang penting dilakukan untuk mencapainya dengan menegaskan kembali tujuan pendidikan kita seperti diungkapkan oleh Abdurrahman Saleh Abdullah yaitu tujuan jasmaniah (ahdaf al-jismiyyah), tujuan ruhani (ahdaf al-ruhiyyah) dan tujuan mental (ahdaf al-akliyah). Artinya terdapat pola yang seimbang dalam upaya untuk menciptakan karakter pendidikan yang berorientasi pada pengembangan aspek afektif, kognitif dan psikomotorik manusia.
Untuk dapat membentuk manusia sempurna (insan kamil), pendidikam harus diarahkan pada tujuan dan aktivitas yang merangsang tumbuh berkembanganya kemampuan fisik, akal dan ruh manusia, maka pendidikan tidak saja berorientasi pada transfer of knowledge (pengetahuan) namun juga transfer of value (nilai) dan juga berorientasi pada prestasi (hasil). Hal tersebut dilakukan untuk benar-benar membentuk Insan kamil, profil manusia ideal yang mempunyai keseimbangan antara jasmani dan rokhani, seimbangnya antara dimensi fisik, akal dan ruh. Al-Quran menyebutnya dengan profil ulul albab, yaitu manusia sempurna yang dapat menyeimbangkan kemampuan fikir, dzikir dan amal sholeh.
Mohammad Andi Hakim, Direktur The Institute of Culture and Education Studies (ICES) Semarang, Mahasiswa Magister Ilmu Linguistik Program Pacasarjana Universitas Diponegoro. 085642689077, andyhachim@gmail.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar