Menjadi Benar-Benar Pemuda



Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu mengembangkan kualitas pendidikanya. Tentu kalimat tersebut tidak asing dibenak kita, namun terkadang sering kita sepelekan. Kiranya benar ungkap kalimat tersebut, bahwa pendidikan memegang peranan penting dalam membangun peradaban suatu bangsa. Berbicara tentang pendidikan, berarti kita sedang membicarakan masa depan sebuah bangsa dalam prospek jangka panjang, dan salah satu aktor penting dalam kesuksesan pendidikan adalah pemuda.
Pemuda dengan kualitas pendidikan yang memadai dan mampu melakukan gebrakan besar serta kongkrit bagi masyarakat, dibutuhkan untuk benar-benar membangun peradaban bangsa Indonesia. Pemuda sejati seharusnya adalah berwatak pandita, yaitu mampu menyampaikan kehendak Tuhan dan membawa keselamatan bagi umat manusia. Oleh karena betapa sentral peranya, pemuda harus berbenah secara orientasi dan nalar agar tidak terjebak pada hedonisme. Sehingga pemuda benar-benar mampu memberikan peran serta aktif dalam upaya empowering society.

Dalam upaya untuk mengembangkan nalar terdidiknya secara kaffah, seorang pemuda dituntut untuk memiliki kemampuan yang memadai dalam penguasaan pengetahuan (knowledge) dan terlebih lagi dalam relasi pribadi dan “modeling”nya (attitude and values) sebagai tauladan bagi masyarakatnya. Oleh karenanya pemuda diharapkan tidak hanya baik secara intelektual, namun juga etika dan moralitasnya. Pemuda terdidik yang mampu berkembang baik dari setiap aspek yang dmlikinya seperti kognitif, afektif, psikomotorik, maupun konatif diharapkan mampu memberikan goresan tinta emas dalam meneruskan perjuangan the founding fathers untuk menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang besar dan patut untuk diperhitungkan dalam kancah pertarungan peradaban dunia.
Aplikasi konsep hidup pemuda diatas tentu dapat diterjemahkan dalam beberapa hal yang kontributif bagi pemberdayaan masyarakat. Pengembangan diri secara intelektual, sosial dan spiritual harus menjadi prioritas bagi berkembangnya mindset pemuda Indonesia, sehingga benar-benar mampu membentuk pribadi yang siap beri manfaat. Perkembangan intelektual berakar pada kemampuan kognisi pemuda dalam penguasaan pengetahuan dan teknologi modern. Kepakaran terhadap keilmuan dapat menjadi pendorong lahirnya pemikiran-pemikiran segar pemuda dan berujung pada karya-karya produktif. Pengembangan dimensi intelektual pemuda dapat diasah dari bangku pendidikan formal, informal maupun non formal. Pada intinya, pemuda tidak justru menjadi korban dari kemajuan zaman, melainkan mampu menjadi aktor dalam penguasaan studi-studi kontemporer dan teknologi.
Selanjutnya adalah pengembangan aspek sosial yang juga mutlak dibutuhkan. Pemuda tidak hanya berfikir tentang hidupnya sendiri, melainkan juga hidup banyak orang. Konsep hidup grow with othersharus menjadi panduan hidup pemuda didalam masyarakatnya. Sehingga pemuda tidak hanya pakar dalam pengetahuan, namun juga memiliki keshalehan sosial, yang menjadikanya memiliki manfaat bagi masyarakatnya. Kontribusi yang dapat dilakukan pemuda dapat berupa banyak hal berdasarkan kencenderungan dan passion nya untuk membuat masyarakat berdaya dari kualitas kepakaran yang dimilikinya, misalnya dalam bidang pendidikan, kesehatan, lingkungan, politik, hukum, agama dan sebagainya.  
Selain itu yang tidak kalah penting adalah pengembangan aspek spiritualitas pemuda. Tidak jarang banyak kasus kejahatan yang dilakukan oleh orang terdidik dan peduli masyarakat, karena tidak memiliki kedewasaan spiritual. Spiritualitas diperoleh dari kesadaran pemuda untuk menjadi pribadi yang beriman dan mengamalkan ajaran-ajaran agamanya dengan baik. Sehingga pemuda akan mampu memilah dan memilih tindakan yang seharusnya dilakukan serta yang harus ditinggalkan.
Pilihan membangun kesadaran tersebut terletak dihati setiap pemuda Indonesia, karena setiap pemuda memiliki “self-hidden potential excellence” (mutiara talenta yang tersembunyi di dalam diri) yang dapat dikembangkan agar benar-benar mampu menjadi pemuda Indonesia yang tumbuh dan berkembang secara baik dan mampu berkarya untuk bangsa. Oleh karenanya pemuda Indonesia harus mampu berkembang dengan baik pada beberapa hal diantaraya “develop the head, the heart, and the hand. 

Mohammad Andi Hakim, Direktur The Institute of Culture and Education Studies (ICES) Semarang,Fikir (GISAF) & Mahasiswa Magister Ilmu Linguistik Program Pacasarjana Universitas Diponegoro. 085642689077, andyhachim@gmail.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

@andi_assidqi