Beberapa masalah yang hinggap dan menghiasi pendidikan kita, salah satunya disebabkan oleh tidak maksimalnya peran keluarga. Sebagai unit terkecil dalam struktur masyarakat, keluarga memegang peranan penting dalam mendidik setiap anak. Jika seorang anak dikenal secara sosial berpredikat baik maupun buruk, kesan pertama yang dicari adalah berasal dari keluarga macam apakah anak tersebut. Oleh karena menjadi penting jika kita mengurai benang kusut permasalan pendidikan dari salah satu unsure penyokongnya, yaitu keluarga. Tulisan in hendak menguraikan tentang pendidikan keluarga perspektif agama Islam. Keluarga kita yakini sebagai wadah paling dasar pemerolehan pengetahuan setiap anak. Melalui sentuhan hangat orang tua, anak diajarkan berjalan, berbahasa dan berfikir. Disanalah pertama kali setiap anak tumbuh dan berkembang. Seperti halnya konsep pendidikan humanis yang berkembang saat ini, Islam begitu memperhatikan pendidikan dalam keluarga. Seperti yang termaktub dalam Al-Qur’an yang berarti “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6) (Depag, 1989).
Implikasi yang ditimbulkan dari ayat tersebut memberikan gambaran mendalam tentang kewajiban orang beriman untuk mendidik, memelihara keluarganya hingga selamat dari ketertinggalan dan api neraka. Tidak hanya difahami sebatas orientasi ukhrowi, melainkan secara holistic peran pendidikan keluarga adalah untuk mencerdaskan kemampuan berfikir anak dan lebih-lebih perihal berislam serta beribadah.
Sejalan dengan konsep kaum behavioris yang melihat setiap manusia dilahirkan dalam keadaan suci, Islam pun demikian. Islam meyakini bahwa setiap manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah. Namun yang membedakanya dengan teori behaviorisme, Islam melihat fitrahnya manusia didasari oleh perjanjian yang telah dilakukan sewaktu anak masih berada didalam kandungan. Perjanjian ketauhidan dilakukan oleh setiap manusia yang lahir ke dunia, dengan meyakini akan kekuasaan dan eksistensi Tuhan sang causa prima.
Oleh karenanya pendidikan dalam keluarga harus benar mengakui fitrah setiap anak. Pendidikan yang dilakukan dalam keluarga menjadi bekal anak ketika bersosialisasi dengan lingkungan masyarakatnya. Melalui pendidikan keluarga anak mendapat pengertian yang mapan dan pengalaman dalam menentukan tujuan hidup. Sehingga, keluarga memiliki andil besar dalam menentukan kepribadian setiap anak. Seperti diungkapkan Arifin (1978:75) bahwa tanggung jawab orang tua didalam keluarga adalah untuk mendidik, memelihara dan melindungi seluruh anggota keluarganya.
Tujuan pendidikan dalam keluarga harus diarahkan pada pengembangan jasmani, akal dan rohani. Artinya terjadi integrasi antara pendidikan yang berfokus pada pengembangan kompetensi spiritual, intelektual dan sosial. Sehingga benar-benar mampu mendidik anak secara komprehensif dan radikal. Pendidikan yang berjalan dalam keluarga harus senantiasa didorong oleh partisipasi aktif orang tua, yang berangkat dari kesadaran bahwa anak merupakan titipan Tuhan yang harus dididik dan diselamatkan hati, fikir dan lakunya. Pendidikan yang dilakukan dengan penuh cinta kasih, saling pengertian dan tanpa kekerasan menjadikan setiap potensi anak mampu berkembang dengan baik dan optimal.
Peran orang tua dalam keluarga tidak dapat dinafikan, karena tidak sedikit orang tua yang acuh terhadap pendidikan anak-anaknya. Melalui berbagai macam metode sebenarnya cukup mudah memaksimalkan peran orang tua dalam pendidikan keluarga. Dengan keteladanan, pembiasaan, cerita dan perintah kebaikan dapat menjadi opsi bagi setiap orang tua dalam mendidik. Pengetahuan orang tua mutlak penting untuk diperhatikan, artinya setiap orang tua harus pula memiliki kompetensi yang mumpuni. Pengetahuan tentang ilmu agama, ilmu dunia dan perangai baik harus dimiliki oleh orang tua. Sehingga anak dapat mendapatkan nutrisi spiritual dan intelektual yang memadai, sekaligus tuntunan perilaku terpuji dari orang tuanya.
Beberapa materi yang penting untuk diberikan orang tua kepada anak adalah akidah, akhlak, ibadah, pemahaman terhadap Al-Qur’an dan juga ilmu-ilmu dunia. Materi akidah menjadi penting dikenalkan kepda anak sedari kecil, untuk membangun dasar keimanan kepada anak, agar dapat membentengi dirinya dari pengaruh buruk zaman. Selanjutnya perihal akhlak, melalui nasihat dan contoh yang ditunjukan oleh orang tua, anak diajarkan untuk membangun kesadaran anak untuk berbuat baik dalam perilakunya kepada Sang Pencipta, sesama manusia dan lingkungan alamya.
Dimensi spiritual dan sosial tersebut perlu diiringi oleh kemampuan dan pemahaman yang memadai tentang ibadah. Anak harus meyakini, memahami dan melakukan tuntunan agama dalam hal beribadah. Kemudian, anak juga penting untuk menguasai cara memahami al-Qur’an, meskipun baru sebatas membacanya. Harapanya kelak anak dapat memahami dan mengamalkan tuntunan Al-Qur’an dan As-sunah. Dilain sisi, ilmu dunia juga perlu dikenalkan kepada anak sejak dini, sehingga anak mampu merespon perkembangan zaman. Proses integral tersebut tentu berangkat dari upaya untuk mengembangkan secara seimbang setiap dimensi tumbuh kembang anak.
Dari uraian diatas agaknya perlu kita fahami bersama bahwa, pendidikan keluarga dimulai sejak anak melihat dunia untuk pertama kali hingga anak tumbuh dewasa. Bukan berarti ketika anak memasuki usia sekolah, tanggung jawab orang tua lantas berakhir. Tanggung jawab tersebut pun bukan hanya diwujudkan dengan rutin membayar uang sekolah anak. Selanjutnya orang tua masih memiliki tanggung jawab terhadap pendidikan anaknya setiap saat. Hal tersebut dapat diberikan dengan pendampingan secara intensif terhadap perkembangan anak, perhatian penuh cinta kasih, membangun karakter dan akhlak terpuji anak, serta mengatarkan anak untuk berkembang berdasarkan apa yang mereka inginkan.
Mohammad Andi Hakim, Direktur The Institute of Culture and Education Studies (ICES) Semarang, Mahasiswa Magister Ilmu Linguistik Program Pacasarjana Universitas Diponegoro. 085642689077, andyhachim@gmail.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar