Pelatihan Jurnalistik FPK UIN Walisongo Semarang

Brebes (11/05). Pondok Pesantren Modern Al-Falah Brebes menggelar serangkaian peringatan Haul ke-28 Pendiri Pesantren tersebut dan salah satu ulama kharismatik asal Brebes KH. Akhmad Tarsyudi. Salah satunya dengan hadirnya Bedah Buku dan Dialog kebangsaan bertajuk Tirakat Meneladani Perjuangan Pendidikan Islam Kiai Kampung dan Keemasan generasi Penerus.Melalui buku berjudul Damar Peradaban, acara tersebut dihadiri oleh penulis buku M. Andi Hakim, S.Pd, M.Hum dan pembanding KH. M. Nasrudin, SH, selaku pengasuh Pondok Pesantren Modern Al-Falah dan Moch Iqbal Tanjung, S.Sos.MA, ketua Garda Santri Brebes.KH. Akhmad Tarsyudi adalah peletak dasar pertama pendidikan di desa Jatirokeh, Kecamatan Songgom, Kabupaten Brebes. Dialah yang pertama kali mendirikan pesantren ditempat tersebut dan merintis lahirnya pendidikan formal.

Acara yang dihadiri oleh 500 peserta dari santri, alumni dan masyarakat Brebes tersebut berlangsung antusias dan meriah. Dimulai pada pukul 20.00 dengan pembacaan puisi tentang Sang Kiai mengantarkan peserta menjadi semakin haru. Menurut Andi, buku tersebut ditulis dalam upaya menghidupkan kembali semangat perjuangan, pemikiran dan keteladanan KH. Akhmad Tarsyudi sebagai salah satu ulama berpengaruh dan perintis pendidikan Islam di Brebes. “Kiai Tarsyudi adalah pendiri salah satu pesantren tertua di Kabupaten Brebes, dan berkembang pesat hingga saat ini” tutur Andi, yang juga cucu dari KH. Tarsyudi.
Hal tersebut dikuatkan dengan narasi yang diberikan oleh Nasrudin, salah satu putranya. Nasrudin menjelaskan bahwa masyarakat Indonesia pada umumnya dan Brebes pada khususnya membutuhkan sosok seperti Tarsyudi. Ulama lokal yang teguh dalam memperjuangkan nilai-nilai taawun, tawazun dan tawassut, serta menjunjung tinggi nilai persaudaraan sesama muslim, sebangsa dan kemanusiaan. “Dalam hidupnya, Kiai Tarsyudi adalah aktivis pergerakan kemerdekaan melalui tentara Hizbullah dan Syuriah NU Kecamatan Songgom Brebes kala itu. Hal revolusioner yang dilakukanya adalah mendirikan pesantren Al-Falah, salah satu yang tertua di Brebes dan lembaga pendidikan formal untuk pertama kalinya di daerah tersebut” Ungkap Nasrudin, yang pernah menjabat sebagai anggota komisi X DPR RI ini.
Iqbal Tanjung sebagai pembanding menguraikan pribadi Tarsyudi sebagai manusia futuristik dan kharismatik. Menurutnya, pemikiran-pemikiran Tarsyudi jauh melampaui masyarakat Brebes kala itu. Meski hanya lulusan Sekolah Rakyat, ia mampu membangun kultur pendidikan Islam di Brebes yang berkembang pesat hingga saat ini. “Pesantren Al-Falah yang didirikanya saat ini berkembang dan memiliki empat jenis pesantren, antara lain : Pondok Pesantren Al-Falah Sofwaniyah Brebes, Pesantren Al-Falah Salafy Brebes, Pesantren Modern Al-Falah dan Pesantren Al-Qur’an Gumawang Pekalongan” pungkas Master lulusan UGM ini.
Harapanya, dengan menghidupkan kembali tokoh-tokoh penting lokal Brebes mampu menumbuhkan spirit bagi generasi muda untuk membangun peradaban yang lebih baik. Andi mencemaskan bahwa saat ini makin banyak manusia negeri ini yang tidak lagi berfikir soal membangun masyarakatnya, melainkan justru ingin merongrong kekokohan bangsa ini. “Belajar dari Kiai Tarsyudi, Brebes akan mampu menjadi bagian dari upaya membangun bangsa Indonesia” harap Andi.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

@andi_assidqi