Foto ini adalah salah satu dokumentasi yang agak mending, saat aku hadir dalam Haul Pakde KH. Ayatullah Al-Hafidz yang ke-4, pada Jumat (13/01). Beliau adalah salah seorang Kang Mas kandung Ibuku. Wa Ayat (panggilanku kepadanya) dilahirkan pada Senin 18 Maret 1962 di desa kelahirannya yaitu Jatirokeh-Brebes, dengan nama kecil Ahmad Rosyidi. Yah, seperti pernah banyak aku ceritakan sebelumnya bahwa keluarga Si Mbahku, KH. Akhmad Tarsyudi adalah orang biasa dan sederhana.
Jadi Wa Ayat pun dibesarkan dengan penuh kesederhanaan, dan jauh dari kata sejahtera. Namun, Abahnya yang luar biasa adalah salah satu perintis pendidikan Islam di Brebes, yang juga merupakan Guru Besar Thoriqoh at-Tijaniyy. Sedang Ibunya sehari-hari berjualan ke pasar untuk membantu suaminya.
Aku mengenalnya dari persinggunganku sebagai salah satu keponakanya. Meski secara geografis kami berjarak, namun cerita-cerita perjuanganya mengalir dari kedua orang tuaku. Kenangan paling berkesan adalah ketika Bapakku mangkat, beliaulah yang memimpin Talkin dan Tahlilnya. Selang seminggu setelahnya, ternyata Allah pun memanggilnya mesra. Allah lebih mencintainya, dengan muda usia Dia memintanya ‘pulang’.
Wa Ayat adalah sosok yang menjadi contoh bagi keluarga serta masyarakat, beliau adalah ahlul Qur’an. Segala aspek kehidupannya berkiblat pada Al-Qur’an. Beliau adalah kekasih Allah, karena menjaga Al-Qur’an hingga akhir hayatnya.
Pendidikan dan pesantren baginya adalah segalanya. Selama 6 tahun beliau mondok untuk menghafal Al-Qur’an dan juga belajar ‘ilmu-‘ilmu yang lain, diantaranya pesantren Tebuireng selama 4 tahun yang kala itu diasuh oleh KH. Yusuf Hasyim, kemudian di Pasuruan selama 2 tahun dengan pengasuhnya yakni KH. Ma’shum. Beliau menghatamkan Al-Qur’an di pesantren tersebut (Pasuruan). Kemudian setelah menghatamkan Al-Qur’an dan lulus Madrasah Aliyah, beliau ke Jakarta untuk meneruskan belajarnya di PTIQ (Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an).
Beliau bersama masyarakat adalah perintis Pondok Pesantren Al-Qur’an Gumawang-Pekalongan, melalui tanah wakaf yang dihibahkan oleh warga. Berdiri pada 1993, pondok ini menjadi tempat pendidikan bagi warga Gumawang dan sekitarnya. Visi yang diusungnya yakni mendidik para penghafal Al-Qur’an, yang tidak hanya memahami bahasa, melainkan maksud dan maknanya.
Karena kecintaan dirinya terhadap kedua orang tuanya, pada tahun 1995 Pondok yang diasuhnya mendirikan Madrasah Dinniyah dan Taman Pendidikan Qur’an dengan nama keduanya. MDA tersebut diberi nama At-tarsudiyah dan nama TPQ diambil dari nama ibundanya yakni Al-Masniyah. Dua lembaga tersebut kini menjadi tempat pendidikan Islam bagi warga Gumawang dan sekitarnya, serta menjadi rujukan pendidikan Islam bagi masyarakat Kabupaten Pekalongan.
Wa Ayat adalah sosok yang sederhana dan bijaksana. Kesederhanaannya, seringkali ku amati dari sehari-hari ketika akan menjadi imam sholat di pondok, beliau ayuhkan sepeda mini dari rumah sampai pondok, hingga hari-hari menjelang beliau menghembuskan nafasnya yang terakhir. Arifnya beliau aku lihat dari caranya mendidik dan membimbing keluarga, santri dan masyarakatnya dengan sabar dan penuh kasih sayang. Berjama’ah walau dalam keadaan sesakit apapun.
Kemudian, berziarah adalah amalan yang tidak pernah luput dilaksanakanya. Seperti yang diajarkan Si Mbah kepadanya. Bahwa sesibuk apapun ketika silaturrahim ke tanah kelahirannya, selalu beliau kunjungi pesarean orang tua dan keluarganya. Berziarah merupakan bukti rasa hormatnya kepada kedua orang tuanya walaupun telah tiada.
Salah satu yang indah adalah, menjelang wafatnya beliau sempat mengabadikan gambar dirinya pada sebuah foto yang dibingkai apik olehnya. Kemudian foto tersebut dipajangnya rapi dirumahnya, sesaat sebelum berpulang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar