Status ini hanya share saja sih, untuk berbagi kisah suka-duka selama belajar di Magister Linguistik, meskipun pada alur cerita justru banyak nelangsanya. Isinya juga terlalu panjang, membosankan dan akan menyita waktu sahabat sekalian yang membacanya, padahal belum juga komprehensif. Sesunggunya ini pelajaran bagi sekalian kita yang dilahirkan dari keluarga yang barangkali ‘mustahil’ bisa merawat mimpi pendidikan hingga jenjang yang tinggi. Nyatanya dengan perjuangan keras dan berdarah-darah (agar terkesan dramatis) pun bisa tercapai juga.
Setelah lulus S1 pada 2014 dan tidak keren blas karena menghabiskan 10 semester lamanya belajar di IAIN Walisongo, akupun kebingungan mau ngapain. Kata orang setalah diwisuda sarjana, pilihanya hanya tiga; menikah, bekerja atau kuliah lagi. Nah, pilihan yang pertama tentu sulit bukan main, untuk menikah butuh modal lahir yang lumayan, meski batin sih selalu siap sebetulnya.. Hee. Akhirnya aku memutuskan untuk mengajar di SMK Al-Falah Brebes selama lebih kurang satu semester.
Keinginan untuk melanjutkan studi sangatlah kuat beriringan dengan banyaknya peluang beasiswa. Namun karena sadar diri dan rajin ngaca dicermin (kadang di mangkuk Mie Ayam gambar jago), orang sepertiku yang TOEFL saja gak beres dan selama kuliah S1 menghabiskan 9 semester diantaranya untuk demonstrasi (3 kali ditangkap Polisi, karena suka bakar-bakaran di Jalan Raya) mana pantas menerimanya. Akhirnya aku urungkan niatku melamar banyak beasiswa. Namun tidak ada sesal sedikitpun karena telat lulus dan pernah menjadi demonstran.
Kegelisahan terhadap diriku sendiri kemudian aku lampiaskan dengan sok berinovasi. Aku dirikan Pusat Pelatihan dan Sekolah Alternatif Gubuk Ilmu Sahabat Fikir (GISAF), karena prihatin. Mengapa demikian? Yah bagaimana tidak, lembaga bimbingan belajar hanya fokus pada pengembangan sedikit aspek kecerdasan anak. Melulu seputar yang diajarkan disekolah dan untuk UN saja, itupun bayarnya mahal seringkali. Jadi adik-adik kita itu pucet wajahnya, bukan hanya karena kurang piknik, tapi sudah sekolah pulangnya siang, sementara sore dan malamnya musti belajar lagi. Kasian kau dek..
Lahirlah GISAF sebagai Gubuk Ilmu tempat siapapun belajar banyak keterampilan tanpa pusing soal biayanya. Keterampilan menulis, kepemimpinan, penelitian, managemen organisasi, wirausaha, hingga desain grafis. Kenapa ini penting dibahas? Karena dari GISAF lah aku bisa melanjutkan studi. Awalnya, GISAF mulai praktik diruangan kecil rumahku dengan 15 ‘Sahabat Fikir’ selama tiga hari dalam sepekan. Selain itu, GISAF juga aktif mengisi disatu-dua sekolah untuk pelatihan jurnalistik tanpa pungutan biaya.
Pundi-pundi rupiahpun terkumpul dengan tabungan selama mengajar, akhirnya aku nekat kuliah lagi. Pilihanya adalah Program Studi Magister Linguistik Universitas Diponegoro. Disinilah aku benar-benar menikmati setiap detik-detik perkuliahan. Batinku berbisik ‘Ini Duniaku’. Kajian kebahasaan yang setiap saat disuguhkan dengan konsentrasinya pada pengembangan penelitian secara konsisten diajarkan. Profesornya asik-asik, tidak elitis, bisa ditemui kapanpun, dan mudah diajak ngopi. Meskipun akhirnya yang aku pesan Es Teh.
Digembleng setiap saat untuk membuat puluhan essay yang research based akhirnya mengantarkan hampir semua tulisanku tersaji pada Konferensi Internasional dan beberapa Jurnal Nasional. Kompetensi inilah yang kemudian membuatku mampu menulis beberapa buku hingga awal 2017 ini, antara lain: Agama (Anti) Korupsi, Damar Peradaban, Bahasa dan Kritik Kekerasan Simbolik, dan Canda Linguistik. Lebih lanjut, pemahaman soal beginian juga membuatku menjadi reviewer dan editor untuk beberapa Jurnal Nasional yang memiliki banyak indeksasi Internasional. Selain sesekali menjadi pembicara dan meyajikan tulisan pada beberapa konferensi.
Kontrafiktif memang. Disaat aku sangat menikmati proses belajar di Kampus Diponegoro, aku juga musti berfikir memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari sekaligus uang tanggungan setiap semesternya. Seingatku 20-an surat lamaran yang ku buat menjadi koleksi lembaga yang aku lamar. Barangkali mereka sangat suka dengan suratku, sehingga lupa memanggilku untuk sekedar tes atau wawancara. Padahal sekali melamar, lampiranku hampir setebal 50 halaman. Itu juga yang mungkin membuat mereka malas membacanya.
Tanpa ambil pusing, aku teruskan perjuanganku di GISAF. Aku merancang program “Mendidik 1000 Penulis Muda Jawa Tengah 2015-2016”. Tuhan maha baik, hal itu membuahkan hasil. Dengan konsisten sebagai lembaga pelatihan TANPA TARIF satu-satunya di Indonesia, selama tahun 2015-2016 hampir setiap bulan kami datang ke 2-3 sekolah dan kampus. Kami melatih adik-adik setingkat SMA dan mahasiswa untuk menulis, membuat majalah dan mendirikan Lembaga Pers Siswa. Selama dua hari fasilitator GISAF memberikan materi kepenulisan sekaligus praktik. Dipenghujung pelatihan pasti kami cetak hasil produknya (Buletin dan Majalah), formulasikan kepengurusan Lembaga Pers, hingga membuatkan program kerjanya. Tidak lupa kami berikan pendampingan yang berlangsung seumur hidup. Fikirku, generasi tua kalah penting dengan yang muda. Jadi sebanyak mungkin calon penulis kami persiapkan sedari dini. Karena faktanya, adik-adik kita terkadang lebih kritis dan objektif ketika menulis, dibanding kita yang padahal menguasai beragam teori.
Nah, ternyata itu yang membuat banyak sekolah dan kampus tertarik. Sehingga sampai pada 2016 kami sudah melatih 35 Sekolah dan 5 Kampus yang semuanya di Jawa Tengah. Meski sebetulnya banyak tawaran diluar Jateng, namun karena kami hanya motoran, jadi terpaksa belum kami penuhi. Barangkali benar bahwa karena ikhlas, semua menjadi berkah. Meskipun kami tidak pernah transaksi dan pasang tarif, ternyata bensin dan perut kami selalu kenyang selepas mengisi acara. Sesekali ada sekolah yang juga memberikan kenang-kenangan yang kemudian kami bagi diantara semua fasilitator.
Sembari mutar-muter ke berbagai daerah. Seringkali bensin kehabisan dijalan, kehujanan, hingga rantai motor yang patah, namun pelatihan tetap berjalan lancar. Akhirnya GISAF berkembang dengan Program ‘Mendidik 1000 Guru Menulis 2016-2020’ dan ‘Mendidik Mahasiswa Pegiat Jurnal 2016-2020’. Konsistensi kami jaga dengan tidak pernah memasang tarif seperti kebanyakan motivator dan lembaga (Ada ya monggo, tidak adapun Allah yang membalas). Dari sinilah nyatanya setiap semester aku dapat memenuhi kewajibanku perihal SPP.
Namun tidak seberuntung mahasiswa lain barangkali. Karena keterbatasan finansial tersebut, aku jarang sekali mengupdate busanaku (bahkan tidak pernah) selama studi di pasca. Uang tersebut lebih sering ku gunakan untuk membeli keperluan kuliah, seperti buku dan biaya mengikuti workshop dan seminar. Karena fikirku, selama masih layak dipakai, tidak perlulah membeli sesuatu yang baru. Karena ya itu, hidup tak semahal gaya hidup (Padune kere.. Hee).. Untuk makan sehari-hari, aku memasak nasi dari beras yang ku bawa dari rumah dan melengkapinya dengan lauk seadanya, kadang telur meski lebih sering tempe. Karena sesungguhnya makan itu untuk hidup, bukan sebaliknya hidup untuk makan.
Orang tuaku yang tinggalah seorang Ibu setiap saat mengalirkan doa-doa dan nasihat untuk menjadi manusia yang bermakna, tidak melulu soal menjadi sukses. Setiap berangkat dan pulang kuliah, RS Kariadi Semarang selalu menjadi rute perjalananku. Karena disitulah Bapak menghembuskan nafasnya untuk terkahir kalinya pada 3 Februari 2013 lalu. Selain itu aku beruntung memiliki keluarga yang setiap waktu memberikan semangat, mereka adalah Mas Zacky Al-aman Mangkunegoro beserta kakak ipar Avina Naila N Syifa , Adik Fifiya Sya'afatul Khairiyah , tunangankuArinun I'lma beserta keluarganya.
Akhirnya waktu yang dinantikanpun tiba, selama 21 bulan ku habiskan waktuku menimba ilmu di UNDIP. Melalui tesis yang berjudul “A Symbolic Violence Behind The Construction of New Islam; A Case in Chapter 10 of the Book of Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti” dibawah bimbingan pakar Analisis Wacana Kritis (AWK) kenamaan Indonesia, Ibu Dr. Nurhayati, M.Hum.
Yang menarik dan nelangsa adalah, selama proses bimbingan sedari semester 3-4 aku jalani dengan ‘nglaju’ setiap akhir pekan dari Brebes dengan menggunakan sepeda motor kesayanganku. Sebenarnya bisa sih pakai kereta api, namun menurutku biaya bensin lebih ramah kantong orang sepertiku. Senin-Rabu aku abdikan diri menjadi pengajar di Madrasah Dinniyah Takhassus (Madinsus) Pondok Pesantren Modern Al-Falah.
Sementara kamis-sabtu adalah hari-hariku di Semarang untuk menyelesaikan tugas akhir. Mushola Al-Qudsy Bukit Beringin Asri (BBA) Ngaliyan adalah tempatku setahun terakhir mukim. Yah statusku sih ‘takmir partisipan’ sebagai badal Adzan ketika yang lain berhalangan.
Di Mushola tersebutlah tesis terselesaikan dan doa-doa dipanjatkan setiap waktu. Karena Allah begitu menyayangiku, akhirnya tepat pada 25 Januari aku diwisuda. Prosesi wisuda berlangsung 2 kali, pada tingkatan Universitas dan Fakultas. Keduanya menempatkanku dibaris depan bersama para wisudawan terbaik. Pada wisuda Universitas, kursi 002 dan kursi 001 untuk wisuda Fakultas Ilmu Budaya. Tempat duduk serupa untuk Ibuku. Puji syukur kehadiratNya dan atas doa-doa Ibu, aku didaulat sebagai wisudawan terbaik dengan IPK 3.96 pada Program Studi Magister Linguistik. Sementara di FIB pun demikian, aku berbagi gelar wisudawan terbaik dengan mahasiswi lulusan sarjana, karena menjadi 2 wisudawan dengan IPK yang sama.
Semua itu lagi-lagi hanya atribusi, entah layak atau tidak ku menerimanya. Sekali lagi aku mengutip kata yang pernah aku tuliskan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk meraih mimpi gemilang. Bukan alasan untuk bermalas-malasan. Bukan ratapan tanpa harapan, bukan rintang yang membuat kita menjadi pecundang, dan bukan pula rintihan tanpa tindakan, sehingga berujung kesakitan dan penyesalan.
Semoga ada pelajaran dari kisah diatas. Selain hanya sebagai dokumentasi pribadi.
Cerita Wisuda II
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar