Minggu tempo hari (30/10) aku didaulat menjadi salah satu pemateri dalam Pelatihan Jurnalistik Dasar (PJD) LPM Edukasi dan LPM Frekuensi UIN Walisongo. Dua lembaga pers yang berasal dari satu induk semang yang sama. Ada perasaan berbeda pasti bagiku, dibandingkan saat mengisi dibanyak tempat sesering yang ku lakukan (agar terlihat sangar dan garang, 35 lembaga dengan 2021 pemuda pernah ku latih menulis dan masih ku bina hingga saat ini).
Batinku, lembaga ini adalah ‘tanah air’ku, tempatku belajar membaca, berdiskusi dan menulis selama dikampus. Bahwa selain ngalap berkah senior-senior sukses jebolan lembaga ini, aku juga sempat menaruh banyak baju, buku dan perlengkapan masak sekaligus mandi dikantornya. Karena setahun lebih, aku menginap gratis disitu (baca: ngungsi). Tapi hal itu berbuah berkah, karena pada tahun 2012, jabatan tertinggi di lembaga ini pernah diamanatkan padaku.
Hal itu menjadi titik balik. Barangkali yang aku lakukan kini, meskipun belum berarti apapun bagi banyak orang. Dengan melakukan jihad literasi, mondar-mandir keliling desa & kota melalui GISAF, menulis buku, ngecuprus diberbagai konferensi nasional & Internasional, serta aktif ‘nguli’ dan menulis dibeberapa jurnal. Semuanya adalah buah belajar dan ngungsi di Edukasi.
Pesanku seusang yang selalu aku sampaikan pada setiap kesempatan. Tidak perlu terlalu banyak belajar teori menulis, karena pelatihan menulis yang paling efektif adalah menulis itu sendiri. Menulis bukanlah bakat yang innate, melainkan pengalaman sekaligus pengamalan yang terberi karena kemampuan ‘membaca’ & 'berdiskusi'. Dan selalu perlu diingat, bahwa disaat kita menulis, sejatinya kita sedang memahat nisan kita, agar kelak manusia menyadari bahwa di bawah nisan itu bersemayam jasad tanpa ruh yang bisa hancur kapanpun, namun pemikiran-pemikiran (tulisan) nya tetap abadi selamanya.
Pesanku seusang yang selalu aku sampaikan pada setiap kesempatan. Tidak perlu terlalu banyak belajar teori menulis, karena pelatihan menulis yang paling efektif adalah menulis itu sendiri. Menulis bukanlah bakat yang innate, melainkan pengalaman sekaligus pengamalan yang terberi karena kemampuan ‘membaca’ & 'berdiskusi'. Dan selalu perlu diingat, bahwa disaat kita menulis, sejatinya kita sedang memahat nisan kita, agar kelak manusia menyadari bahwa di bawah nisan itu bersemayam jasad tanpa ruh yang bisa hancur kapanpun, namun pemikiran-pemikiran (tulisan) nya tetap abadi selamanya.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar