Fakta Unik Bahasa

Guruku pernah bilang, bahwa bahasa mampu melambungkan nama baik, namun disisi lain juga dapat menenggelamkan diri seseorang. Analoginya mungkin seperti teman akrabmu yang mem-promote mu didepan gebetan, namun disisi lain dia men-sleding dan menikungmu melalui hasutan, sakit bukan?.
Barangkali demikian ya yang berbulan-bulan ini ramai diperbincangkan, khususnya soal kasus 'penistaan agama'. Banyak mufasir dan ahli bahasa baru bermunculan merespon isu itu. Yah setidaknya linguistik menjadi populer lah, dan ramai-ramai orang belajar ilmu yang katanya kurang mentereng dibanding ilmu lain ini, ya itu juga kalau belajar.

Tidak ingin berdebat soal kasus itu, karena aku juga gak paham dan yang penting semua kita bersodara. Fungsi bahasa bagiku secetek ilmuku, yaitu agar kita dapat berbicara satu sama lain. Lebih-lebih lagi untuk guyonan. Daripada saling sikut dan emosi tebar narasi kebencian, mending ajak senyum dan tertawa orang lain dengan bahasa.
Anda bisa nglucu? Berarti anda cerdas. Karena secara linguistik anda adalah orang aneh (sejenis alien) yang suka ngobrak-ngabrik tatanan bahasa. Kenapa demikian? Yah karena humor tercipta jika penggunaan bentuk-bentuk bahasa tidak pada tempat semestinya.
Secara fonologis, kita sering dibuat tertawa dengan pengucapan bunyi-bunyi (alfabet) yang salah diucapkan oleh seseorang. Selain mungkin karena karakter suara yang khas (aneh), tapi kadang lidah kepleset salah ucap dan justru jadi guyonan. Atau contoh lain pada lagu (tonal) “Mari nyanyi lagu dari Sabang sampai Merauke”. Temanmu sudah menyanyikanya dengan nada yang dibuat oleh R Suharjo, lha kamu kok justru menyanyi dengan nada iklan Indomie.
Dari sisi morfologis juga bisa. Kalau yang ini kaitanya dengan salah ucap kata yang bisa saja menimbulkan kelucuan. Misalnya sekelompok teroris yang gagal paham saat disuruh komandanya jihad ke ‘Suriah’, eh ternyata malah ngebom di ‘Sarinah’. Meskipun lucu, tapi tetep medeni yang satu ini, dan jangan ditiru yah.
Berikutnya adalah wilayah pragmatik yang mempelajari bahasa sesuai dengan konteks pemakaian. Pada sisi ini, semakin sering anda melakukan pelanggaran maksim, sejatinya anda itu lucu. Teman kita selalu punya presuposisi terhadap apa yang kita lontarkan, misal “Ayok nyanyi lagu perjuangan?”, seketika mereka berfikir mungkin lagu-lagu yang dulu diajarkan di SD. Namun saat anda menyanyi justru yang keluar “Marilah rakyat Indonesia ... (Mars Perindo)”. Nah disini anda melanggar maksim relevansi.
Dunia ini kejam, mari hiasi dengan canda tawa penuh keikhlasan. Karena “Gott gab uns de Speache, damit wir aneinander vorbeireden koennen.”(Tuhan memberi kita bahasa agar kita dapat berbicara satu sama lain).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

@andi_assidqi