Bahasa Gambar

Kreativitas itu bisa berwujud apapun, termasuk maraknya meme dan gambar ilustrasi di FB dan sosial media yang lain. Kehadiranya mengundang gelak tawa, sedih, termotivasi, marah, hingga saling hujat-menghujat, jika tidak sepaham denganya. Dalam teori bahasa, gambar sesungguhnya berperan untuk memberikan petunjuk, menarik dan menyita perhatian, juga merespon emosi dengan sangat baik. Ini juga sebagai alternatif saat seseorang enggan menyerap informasi melalui mendengar maupun membaca dengan baik, maka ia dapat memperolehnya melalui gambar, karena gambar mampu menyederhanakan informasi yang sukar dimengerti.
Saat inipun demikian, bahwa gambar/ilustrasi di socmed bukan lagi sebagai media hiburan maupun pengetahuan, melainkan alat propaganda. Yah wajar memang, karena hidup memang berkubang pada wilayah internalisasi eksterior dan eksternalisasi interior. Artinya, manusia menyerap segala yang diluar dirinya (ideologi, nilai, gaya hidup dlsb) yang kemudian menjadi habit (mental model). Karena sesungguhnya yang eksis dalam dunia sosial adalah hubungan-hubungan, bukan interaksi antara agen-agen, atau ikatan intersubjektif antara individu-individu, melainkan hubungan-hubungan objektif yang eksis secara independen dari kesadaran dan kehendak individual.

Selanjutnya, karena secara lahiriah manusia memiliki hasrat kuasa untuk ‘membunuh’ manusia yang lain, ia akan menyebarkan habitnya kepada orang lain, termasuk melalui meme dan gambar. Jadi sebenarnya, kita tidak memiliki independensi atas apapun yang kita fikirkan, karena selalu dipengaruhi dari yang luar (struktur objektif). Tidak heran jika kemudian, kita berseteru dan ‘adu jotos’ karena perbedaan pendapat. Sesungguhnya kita berpegang pada aletheia (kebenaran) kita masing-masing, dan menepis oposisi-oposisi selainya.
Melalui media gambar yang bisanya disertai dengan kalimat-kalimat persuasif, dipilih untuk mempengaruhi banyak orang. Propaganda sebagai upaya sengaja dan sistematis untuk membentuk persepsi, memanipulasi alam pikiran (kognisi), dan mempengaruhi perilaku yang dikehendaki pelaku propaganda. Propaganda bisa berupa apapun, namun cenderung pada wilayah ‘kepentingan’.
Jadi, Waspadalah!!! Waspadalah!!! Bahwa belajar tidak hanya cukup melalui socmed, dan meme yang menandakan anda malas mendengar dan membaca (ngaji), apalagi sowan ulama. Bergurulah dengan siapapun dalam kenyataan, walaupun yang maya kadang lebih menggiurkan, karena ‘maya’ sudah pasti seorang perempuan dan mungkin cantik

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

@andi_assidqi