Sepenggal kisah ini bercerita tentang sosok inspiratif dan panutan paripurnaku, Ibu. Setelah Bapak mangkat pada 3 Februari 2013, Ibu adalah tulang punggung keluarga. Perannya merangkap sebagai Bapak sekaligus mengokohkan dirinya sebagai single fighter ditengah hidup yang serba embuh seperti saat ini. Dilahirkan pada 15 Januari 1964 dengan nama Salimah Tarsyudi, nama belakang yang diambil dari nama Abahnya KH. Akhmad Tarsyudi. Si Mbah (kebetulan) merupakan pendiri Pondok Pesantren Al-Falah, salah satu yang tertua di Kabupaten Brebes.
Ibuku adalah orang biasa, tapi beliau santri. Meski anaknya tidak ada yang santri blas, sepertiku yang glandangan tidak jelas. Hanya kebetulan kami tinggal di lingkungan pesantren, jadi sesekali ikut ngaji, walaupun lebih banyak mainya. Setelah mengenyam pendidikan di PGAN Pekalongan dan nyantri juga disana, Ibu meneruskan belajar di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, sembari kuliah di Universitas Hasyim Asy’ari (UNHAS, dulunya IKAHA). Disana Ibu menyelesaikan pendidikanya pada jurusan Pendidikan Agama Islam hingga meraih gelar BA, bukan Bakul Ayam lho ya, tapi Bachelor of Art.
Belajar di pondok yang didirikan oleh Mbah Hasyim Asy’ari tentu sarat makna bagi beliau, terlebih dengan beragam kitab dan ilmu yang dipelajari selama beberapa tahun singgah. Meski sudah terbiasa sejak kecil ngaji dengan Abahnya dirumah, namun beliau tidak pernah lepas dari tekadnya untuk menimba ilmu sebanyak mungkin dipondok. Tardisi dan kearifan model pendidikan pesantren beliau ikuti dengan tekun seperti Syawir, sorogan, bandongan, Majlis Ta’lim, Mudzakarah dan Musyawarah hingga dijadikanya beliau sebagai lurah santri putri kala itu. Ibu begitu rapi menyimpan semua catatan belajarnya selama di Jombang, dijilid dan gagah menghiasi almari rumah kami.
Aktivitas ibu saat inipun mungkin biasa-biasa saja bagi banyak orang. Ibu adalah guru swasta di sebuah Madrasah Ibtidaiyah (MI) selama lebih dari 30 tahun. Kami menjalani kehidupan dengan penuh kesederhanaan (baca: kere), meskipun dulu lumayan ketika Bapak masih ada, karena sejak bujangan Bapak sudah PNS. Selain itu Ibu lumayan ngaktivis, karena sempat dua periode menjadi ketua PAC Muslimat NU di Kecamatan kami. Meski ketika ditawari untuk naik ke tingkatan Cabang Brebes, Ibu tidak berkenan.
Ada yang aneh dari Ibuku. Menjalani hidup seorang diri tidak membuatnya terpuruk dan menghabiskan waktunya untuk bersedih berkepanjangan. Selepas subuh Ibu selalu ke pasar untuk membeli jajanan ringan yang akan dijajakanya pada siswa MI yang diajarnya. Kegiatan berdagang kecil-kecilan sudah Ibu lakukan sejak pertama kali mengajar. Kalau sampeyan pengen tahu, warung Ibuku tidak pernah dijaga, anak-anak bebas melakukan aktivitas jual-beli sekarepe. Nyatanya ibu selalu bersyukur dan tidak pernah merasa rugi, “kalau ada yang tidak jujur, namanya juga bocah, nanti sadar sendiri” tuturnya lembut.
Selain mengajar dan berdagang, Ibu adalah orang yang tidak bisa cuek dengan keadaan masyarakatnya. Selepas maghrib Ibu mengajar mengaji anak-anak kecil agar tidak nonton sinetron yang ditanyangkan televisi. Setiap sabtu siang, beliau mengumpulkan Ibu-Ibu dengan Majlis Ta’lim yang didirikanya yaitu Al-Masniyah (diambil dari nama Ibunya) untuk ngaji Kitab Safinatun An-Najah dan Sullamut Taufiq, karena baginya sebelum kita berteriak-teriak soal Jihad dan khilafah, lebih dahulu perlu diperhatikan soal Thoharoh dan Sholatnya.
Sesekali Ibu mengajar baca tulis bagi yang masih buta huruf, atau sekedar keterampilan berwirausaha. Ini berjalan tanpa sponsor sedikitpun, apalagi bantuan pemerintah. Ibu hanya menyuguhkan apa yang kami punya, seperti teh hangat dan bodin/gedhang/boled godog untuk cemilan. Kenapa memilih itu? tentu agar cepat kenyang. Sembari berkeliling dari satu pengajian ke pengajian yang lain, Ibu biasanya ceramah atau sekedar memimpin tahlil bagi jamaahnya. Aku sebagai salah satu anaknya yang hobby makan berkat, tidak pernah kekurangan supply dari jenis makanan ini, yang kadang berbungkus cepon, timba dan besek dengan beraneka menu yang membuat lidah bergoyang.
Barangkali itu sedikit dari sekian banyak pelajaran yang dapat aku serap dari Ibu, perihal ilmu harus diamalkan, tanpa berfikir soal materi yang akan didapatkan. Percaya dengan Barokah yang membuat keluarga kami masih bisa bertahan hidup. Karena karunia Tuhan, Ibu sudah bisa menjadikan Zacky Al-aman Mangkunegoro sebagai Ustadz dan Sarjana Pendidikan Agama Islam (Ketum PC IPNU Brebes 2013-2015), M Andi Hakim sarjana Pendidikan Bahasa Inggris (Sebentar lagi Magister Linguistik) dan Fifiya Sya'afatul Khairiyah (Kandidat Sarjana Akuntansi Syariah)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar