Akhir-akhir ini seringkali aku bercerita soal kesusahaan dan nelangsanya hidupku pada sahabat FB. Jangan mikir yang bukan-bukan lho ya, Sungguh tidak ada niatanku untuk melakukan komersialisasi, apalagi kapitalisasi akan kesusahan itu, lha wong susah ko, apa yang perlu dikomersilkan? Hehe . Meski saat ini sedang marak ya, motivator dan pendakwah (Selebritis) yang pasang tarif gede-gedean untuk sekedar memberikan nasihat. Kalau denganku, gak ada tuh begitu-begituan (Sekalian promosi).Seperti kemarin (21/10), sepulang dari Jakarta (Kamis sore, 20/10) atas mandat dan kepercayaan guru-guru teladanku dari Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Mas Ma'as Shobirin, Pak Taslim Syahlan, Mas Ali Imron & Bu Laela, Jum’at subuh aku melaju dengan kuda putihku (Honda CB 150 R), menerjang semenanjung pantai utara untuk belajar bersama 200 adik-adik santri Pondok Pesantren Al-Mubarok, Mranggen Demak. Anda perlu tahu, motor tersebut adalah kendaraan operasional GISAF lintas provinsi selama ini. Kesanku, selalu menyenangkan ketika bersua dengan generasi penulis muda, yang dari mereka kita kalah penting.
Pesantren ini adalah lembaga ke 35 (Sekolah/Pesantren/Kampus/Ormas) yang dikunjungi oleh GISAF sejak 2014 lalu (dan konsisten tanpa tarif). Tidak banyak memang, namun dari merekalah pemuda yang belajar bersama GISAF akhirnya bertambah menjadi 2021. Dan dari mereka pulalah akan lahir penulis yang tidak hanya mengandalkan gas-gasan, tetapi gagasan. Penulis yang mampu menebar benih kedamaian dalam keberagaman dan keberagamaan. Penulis yang tidak meminggirkan dan menindas hak-hak minoritas agama, keyakinan dan etnis, ditengah zaman serba bebas menghujat dan merasa benar.
Pesanku sesederhana yang dulu ku sampaikan, bahwa tak perlu menunggu kaya untuk membantu sesama, tak perlu menunggu mapan intelektual untuk membantu yang marjinal, tak perlu menunggu legalitas untuk mencetak generasi penerus yang cerdas, dan tak perlu banyak bersuara (ndobol) jika hanya retorika, tanpa tindakan nyata.
Yah, pokoknya begitu la yah, benar tidaknya ya gak tau. Meskipun aku gak pernah mondok, tapi depan, belakang, kanan-kiri rumahku adalah Pesantren. Selamat Hari Santri Sahabat, Semoga kita benar-benar santri




Tidak ada komentar:
Posting Komentar