Akhirnya benar terjadi, aku dan sahabatku Ahmad Waliyadin klayaban di Ibu Kota dengan sepeda motor antik milik sahabat Busro Mukhamad (tidak boleh sebut merek, dikira promosi). Yah dengan modal dengkul (hemat pastinya) dan nekat kami berangkat dari tempat kami menginap di Jl. WR. Supratman, Kampung Utan, Ciputat menuju Gedung Widya Graha LIPI, di Jl. Gatot Subroto, Jakarta Selatan.
Memadukan dua konsep fenomenal GPS, yakni Global Positioning System dan Global Pitakon System, kami akhirnya sampai di lokasi, meski dengan waktu tempuh 4 kali lipat dari perjalanan mereka yang tau jalan. Jadi barangkali jika kami hitung, untuk perjalanan pulang-pergi kisaran 50 orang kami tanyai alamat, Luar biasa bukan?. Apa itu ndeso? Jelas tidak, setidaknya dijalan saja kami bisa bersilaturahmi dan kenalan dengan 50 orang baru, Hehe.
Karena kami merasakan deritanya macet Ibu Kota, di hari kedua dan ketiga kami memutuskan untuk singgah dan bermalam di Masjid LIPI. Ada yang menarik disini, kami bertemu dengan seorang yang arif dan rendah hati, pengelola dan yang ngrumati masjid tersebut. Beliyo Bapak M Asfar Marzuki, peneliti senior LIPI produktif di bidang sosiologi pedesaan.
Selepas Magrib berjamaah, singkong rebus dan teh hangat disuguhkanya kepada kami yang berwajah melas, dan sudah pasti lapar. Awalnya kami menolak, “Sampun Pak, Ngrepotin” aku bertutur, namun tetap saja sepiring singkong itu habis tidak begitu lama setelah kami duduk. Berceritalah beliyo saat sekolah di UGM dan studi di Australia, sekaligus pengalamanya selama lebih dari 30 tahun menjadi seorang peneliti.
Lantas, Apa yang menarik dari konferensi ini? adalah tema yang menggairahkan bagiku, yakni “Strengthening the Role of Social Sciences and Humanities in Global Era”. Sejenak fikiranku kembali pada saat masih belajar di SMA dulu, aku memiliki ketertarikan dengan Ilmu Sosial. Sehingga saat naik ke kelas XI, aku memutuskan untuk masuk IPS. Namun, apa yang terjadi? Aku dijemput oleh wali kelasku untuk berpindah di kelas IPA, saat sedang memulai hari pertama belajar. “Kamu kan rangking 1, lha kok malah masuk sini?” tuturnya keras sembari melotot, tanda sayang beliyo padaku.
Ada masalah disini, soal stigma dan krisis identitas ilmu pengetahuan sosial yang masih memerlukan terobosan dan langkah rekonstruksi. Disini aku belajar dari Prof Ikrar Nusa Bakti, Prof Iskandar Zulkarnaen (Kepala LIPI), Richard Chauvel (Universitas Melbourne, Australia) dan Leonard Sebastian (Rajaratnam School of International Studies). Serta nama-nama beken nasional sekelas Aris Ananta (UI), Hilmar Fairid (Dirjen Kebudayaan), Carunia Mulya dan Tri Nuke Pudjiastuti (LIPI).
Aku hanya merangkum yang aku fahami dari para ilmuan sosial tadi. Jika ditelisik, sebab masalah tersebut secara historis berakar sejak masa kolonial. Perspektif orientalisme ilmuan Barat justru telah mematikan identitas ilmu pengetahuan sosial dan mencerabutnya dari akar masyarakat bangsa ini. Sungguh, sejatinya kita hanya merdeka secara politik, namun gagal mengembangan ilmu pengetahuan sosial yg sesuai dengan kondisi masyarakat kita.
Hal penting yg menjadi rekomendasi dari 'kumpulan' ini sesungguhnya adalah daruratnya terobosan baru dalam proses produksi pengetahuan untuk memahami masyarakat dan kebudayaan, dengan perangkat-perangkat ilmu pengetahuan sosial dan humaniora yg lebih membumi dan paradigma baru. Nalar ilmiah yg tidak melihat masyarakat sebagai sesuatu yg terasing dari lokalitasnya.
Yah, aku yg plonga-plongo dan oplah-oploh dalam forum hanya bisa belajar banyak hal tentang identitas (yg seharusnya) dari ilmu pengetahuam sosial dan humaniora khas Indonesia. Kontribusi gagasan dan pemikiran seluruh peserta baik lokal dan Internasional (8 Negara) menjadi ‘sangu’ untuk belajar lebih dalam. Dan kesimpulanya adalah, aku belum bisa apa-apa. Sekian




Tidak ada komentar:
Posting Komentar