Hari ini aku bertolak ke kota yang tengah riuh ramai dengan banjir fatwa dan berita, ibu kota Jakarta. Maksud dari kelayabanku kali ini adalah peranku sebagai salah satu speaker/pemakalah pada helatan ‘International Conference on Social Sciences and Humanities’ (ICSSH) LIPI, 18-20 Oktober 2016. Disana aku akan ngecuprus hasil renunganku pada panel 4 mengenai penguatan Demokrasi dan Hak Asasi Manusia (HAM) di Indonesia.
Kali ini aku tidak sendirian, Sahabat setakmiran di Masjid Al-Qudsy Ngaliyan dan se-tunganan (sama-sama baru tunangan), Pak Ahmad Waliyadin yang Juli 2017 sudah akan belajar (Master) TESOL di Monash University, Australia.
Ada yang menarik, minimal bagi diriku sendiri, apa itu? Yah soal speaker ekonomis (baca: ngirit). Tidak seperti rekan-rekan lain yang barangkali bisa aplot foto saat sedang di bandara beserta tiket boarding passnya (biasanya tepat didepan pesawat, biar keliatan, Hehe). Aku cukup naik kereta api Tegal Express rute stasiun Brebes tujuan stasiun Pasar Senen, seharga Rp. 49.000, dan untuk pulangpun menggunakan kereta yang sama. Ini bukan soal memilih sederhana, tapi memang kere aslinya.
Selain itu, jangan bayangkan aku akan singgah disalah satu hotel yah. Karena memang sedang musim, aplot foto menginap di hotel berbintang, meski masih pake anggaran negara, Hehe. Disana pun aku begitu selektif memilih tempat penginapan. Tempat kos sahabat Busro Mukhamad (kawan seperjuangan, Mahasiswa Pascasarjana UIN Jakarta) adalah sasaranya. Kriterianya adalah minimal dikos tersedia Magicom kecil untuk menanak nasi, dan mie instan, jadi disini semakin cocok untuk ijtihad ngirit. Kemudian, kami memilih naik motor untuk keliling ibu kota, karena biaya premium sepertinya lebih ramah bagi kami, dibanding argo taksi.
Yah sedikit saja lah ya kami eksplor kesengsaraan kami pada sahabat FB, dan tidak perlu klik ‘Like’, ‘Share’ dan ‘Amin’ untuk masuk surga karena kami, Hehe. Karena memang, sejatinya hidup itu, tidak semahal gaya hidup. Dan nikmat hidup yang sejati adalah berbahagia dan berani tersenyum menertawakan ke-nelangsa-an diri sendiri, karena itu bentuk rasa syukur yang teramat tulus pada anugerah Tuhan.
Speaker Ekonomis; ICSSH LIPI 2016
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar