Seperti lazimnya tradisi-tradisi yang berkembang di masyarakat Indonesia dalam merayakan hari besar idul fitri yang beragam, hal tersebut juga dilakukan oleh masyarakat di desa Jatirokeh. Rutinitas yang kemudian menjadi tradisi tersebut selalu dilakukan masyarakat desa dalam menyambut datangnya hari raya lebaran. Yah, orang desa biasa menyebutnya dengan prepegan. Istilah yang memang tidak hanya digunakan oleh masyarakat desa Jatirokeh saja, namun kiranya makna yang terkandung didalamnya menarik untuk dikaji bersama.
Menurut penuturan masyarakat desa, istilah prepegan berangkat dari kata reg-regan atau berdesak-desakan. Definisi tersebut wajar muncul karena kegiatan prepegan identik dengan aktivitas keramaian dan berdesakan. Tradisi prepegan biasanya mulai dilakukan satu minggu menjelang hari raya lebaran. Aktivitas dalam prepegan lazimnya adalah kegiatan berbelanja dalam skala besar yang dilakukan oleh hampir sebagian besar warga desa. Berbelanja dengan beranekaragam kebutuhan seperti pakaian, makanan, hingga kebutuhan untuk pemakaman (Bunga dan wewangian).
Hal yang membedakan kegiatan berbelanja harian dengan prepegan adalah pada sisi kekhasan dan cirinya, karena kegiatan tersebut hanya dilakukan menjelang lebaran dan dengan antusiasme masyarakat yang begitu besar untuk ikut serta didalamnya. Prepegan dahulu dikenal hanya untuk aktivitas berbelanja di pasar-pasar tradisional, namun seiring perkembangan zaman istilah tersebut juga diperuntukan bagi kegiatan jual beli di pasar-pasar modern. Sehingga istilah yang lazim digunakan saat masyarakat desa berbelanja menjelang hari raya lebaran adalah prepegan.
Menilik pada makna yang terkandung didalamnya, prepegan sebenarnya memuat makna sosiologis yang begitu dalam. Didalamnya terdapat aktivitas sosial secara bersama-sama tanpa mobilisasi. Aktivitas sosial kultural tercipta melalui interaksi yang baik diantara masyarakat desa. Karena rutinitas yang tercipta disaat bersama-sama melakukan jual beli dan berduyun-duyun menuju pasar-pasar tradisional. Selain itu, aktivitas tersebut merupakan bagian dari sarana silaturrahim yang dilakukan antar sesama masyarakat. Hal yang tentu tidak kita jumpai pada aktivitas jual beli yang dilakukan di pasar-pasar modern. (Ahmad Zacky)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar