Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu mengembangkan kualitas pendidikanya. Tentu kalimat tersebut tidak asing dibenak kita, namun terkadang sering kita sepelekan. Kiranya benar ungkap kalimat tersebut, bahwa pendidikan memegang peranan penting dalam membangun peradaban suatu bangsa. Berbicara tentang pendidikan, berarti kita sedang membicarakan masa depan sebuah bangsa dalam prospek jangka panjang. Namun kali ini penulis tidak mengungkapkan secara komprehensif tentang idealitas pendidikan, hanya ingin menguraikan sedikit tentang salah satu aktor penting dalam kesuksesan pendidikan, yaitu guru.“ Umar bakri, Profesor Doktor Insinyur pun jadi “, merupakan kutipan salah satu kalimat dalam syair lagu umar bakri karya Iwan Fals. Lagu yang menceritakan perjuangan perih seorang guru dalam mendidik anak bangsa, meski dengan kompensasi yang tidak seberapa, namun sang guru begitu tulus dan semangat dalam mendidik. Hal tersebut tentu tidak terjadi disaat sekarang, karena nasib dan kesejahteraan guru sudah kian diperhatikan oleh pemerintah. Besarnya alokasi anggaran pendidikan sebesar 20% dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) membuat profesi guru mendapat buahnya. Hal tersebut diimplementasikan dalam berbagai program seperti sertifikasi, pelatihan profesi guru, kualifikasi, pendidikan profesi dsb. Namun seharusnya, besarnya kompensasi tersebut diimbangi dengan peningkatan kualitas guru di Indonesia. Mengingat mulianya amanat yang diemban oleh seorang guru.
Membaca sejarah berdirinya lembaga pendidikan Taman Siswa bentukan Ki Hajar Dewantara, yang begitu memperhatikan pentingnya peran seorang pendidik. Modelnya adalah Kyai Semar (menjadi perantara antara Tuhan dan manusia, mewujudkan kehendak Tuhan di dunia ini). Sebagai pendidik yang merupakan perantara Tuhan maka guru sejati sebenarnya adalah berwatak pandita, yaitu mampu menyampaikan kehendak Tuhan dan membawa keselamatan. Oleh karena betapa sentral peranya, guru harus mampu memiliki kompetensi dan kualifikasi yang memadai sebagai pendidik.
Seorang pendidik yang baik, tidak hanya efektif dalam kegiatan belajar mengajar di kelas saja (transfer of knowledge), tetapi lebih-lebih dalam relasi pribadinya dan “modeling”nya (transfer of attitude and values), baik kepada peserta didik maupun kepada seluruh anggota komunitas sekolah. Hal tersebut tentu merupakan implementasi dari tuntutan kompetensi yang harus dimiliki seorang guru, yakni pedagogis, profesional, kepribadian dan kompetensi sosialnya. Kesemuanya tidak dapat dipisahkan dari diri seorang pendidik. Sehingga dalam suasana belajar, guru mampu membentuk pribadi-pribadi yang berkembang secara optimal dan relatif tanpa hambatan karena berada dalam suasana yang penuh cinta (unconditional love), hati yang penuh pengertian (understanding heart)serta relasi pribadi yang efektif (personal relationship) diantara semua komponen penyelenggara pendidikan.
Kemudian mengenai dimensi kecerdasan seorang anak yang juga perlu diperhatikan oleh seorang guru. Pembelajaran yang berpusat kepada siswa menuntut guru untuk mampu memahami secara mendalam bakat dan passion setiap siswanya. Howard Gardner (1983) menelaah manusia dari sudut kehidupan mentalnya khususnya aktivitas inteligensia (kecerdasan). Menurut dia, paling tidak manusia memiliki 7 macam kecerdasan yaitu:
- Kecerdasan matematis/logis: yaitu kemampuan penalaran ilmiah, penalaran induktif/deduktif, berhitung/angka dan pola-pola abstrak.
- Kecerdasan verbal/bahasa: yaitu kemampuan yang berhubungan dengan kata/bahasa tertulis maupun lisan. (sebagian materi pelajaran di sekolah berhubungan dengan kecerdasan ini)
- Kecerdasan interpersonal: yaitu kemampuan yang berhubungan dengan keterampilan berelasi dengan orang lain, berkomunikasi antar pribadi
- Kecerdasan fisik/gerak/badan: yaitu kemampuan mengatur gerakan badan, memahami sesuatu berdasar gerakan
- Kecerdasan musikal/ritme: yaitu kemampuan penalaran berdasarkan pola nada atau ritme. Kepekaan akan suatu nada atau ritme
- Kecerdasan visual/ruang/spasial: yaitu kemampuan yang mengandalkan penglihatan dan kemampuan membayangkan obyek. Kemampuan menciptakan gambaran mental.
- Kecerdasan intrapersonal: yaitu kemampuan yang berhubungan dengan kesadaran kebatinannya seperti refleksi diri, kesadaran akan hal-hal rohani.
Mungkin sebagian kita bertanya-tanya, atau bahkan baru mengetahuinya, karena memang kita dibesarkan dari pola pendidikan dan sistem yang mengekang kemerdekaan kita dalam belajar. Guru seharusnya mampu menjangkau setiap dimensi tersebut. Karena pada hakikatnya seorang pendidik adalah seorang fasilitator. Fasilitator baik dalam aspek kognitif, afektif, psikomotorik, maupun konatif. Seorang pendidik hendaknya mampu membangun suasana belajar yang kondusif untuk belajar-mandiri (self-directed learning). Ia juga hendaknya mampu menjadikan proses pembelajaran sebagai kegiatan eksplorasi diri. Galileo menegaskan bahwa sebenarnya kita tidak dapat mengajarkan apapun, kita hanya dapat membantu peserta didik untuk menemukan dirinya dan mengaktualisasikan dirinya. Setiap pribadi manusia memiliki “self-hidden potential excellence”(mutiara talenta yang tersembunyi di dalam diri), tugas pendidikan yang sejati adalah membantu peserta didik untuk menemukan dan mengembangkannya seoptimal mungkin.
Pelajaran yang dapat kita ambil adalah, menjadi guru tidak semudah yang dibayangkan. Karena guru merupakan aktor penting penentu keberhasilan dalam belajar. Guru sejati tidak hanya menjadikan peranya sebagai sebuah profesi belaka, atau lebih parahnya untuk mencari kekayaan. Namun lebih dari itu, mendidik merupakan pengabdian dan amanat yang diberikan Tuhan untuk menerjemahkan nilai-nilai ketuhanan kepada umat manusia lainya.
Guru harus senantiasa memahami setiap potensi yang dimiliki peserta didiknya, tanpa ada pengekangan. Karena peserta didik hakikatnya adalah manusia merdeka yang mampu berkembang dengan baik dengan peran fasilitator yang baik pula. Yang dimaksud dengan manusia merdeka adalah seseorang yang mampu berkembang secara utuh dan selaras dari segala aspek kemanusiaannya dan yang mampu menghargai dan menghormati kemanusiaan setiap orang. Oleh karena itu bagi Ki Hajar Dewantara pepatah ini sangat tepat yaitu “educate the head, the heart, and the hand. (Mohammad Andi Hakim)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar