Melestarikan Budaya “Nyadran” Ala Masyarakat Brebes


Brebes (30/7) – Hingar bingar perayaan hari raya idul fitri 1435 H sudah terasa sekian hari sebelumnya. Masyarakat dengan penuh kebahagiaan dan semangat menyambut kedatangan salah satu hari besar keagamaan dalam Islam tersebut. Tidak terkecuali dengan yang dilakukan masyarakat Brebes pada umumnya, dan warga desa Jatirokeh pada khusunya. Desa yang merupakan tanah kelahiran penulis sejak dahulu memang seakan menjadi magnet untuk desa-desa tetangga, karena perkembangan perekonomianya yang cukup baik. Terlebih, desa ini merupakan pusat pemerintahan di Kecamatan yang tergolong masih muda di Kabupaten Brebes, yakni Kecamatan Songgom.
Kembali pada konteks idul fitri dengan segala macam kesibukan menarik didalamnya. Momentum ini merupakan aktivitas keagamaan dalam Islam yang begitu penting. Manusia ditahbiskan menjadi fitri (suci) seperti bayi yang baru lahir ke dunia, setelah menjalani ibadah puasa satu bulan penuh untuk melatih dan memperbaiki kualitas keimanan seseorang. Kemudian ditutup dengan membayar zakat kepada yang membutuhkan (Musytahiq) sebagai upaya membersihkan diri. Selain itu yang juga sangat penting adalah silaturrahim, saling meminta dan memberi maaf kepada sanak saudara, tetangga, teman karib dan setiap orang yang dikenal. Terlebih lagi kepada orang yang menjadi “musuh” dalam aktivitas kehidupan, hal tersebut sangat baik untuk dilakukan, karena Rasulullah SAW pun sangat menganjurkan umat Islam untuk bersilaturrahim.

Kaitanya dengan silaturrahim dalam upaya meleburkan salah dan khilaf dalam konteks hubungan manusia dengan manusia (Hablum mina nas), terdapat tradisi yang lazim dilakukan oleh masyarakat desa Jatirokeh. Nyadran, istilah yang mungkin tidak asing bagi sebagian besar orang Jawa pesisiran. Istilah tersebut digunakan orang Jatirokeh (Masyarakat Brebes) untuk menyebut aktivitas silaturrahim yang dilakukan saat lebaran. Berbeda dengan masyarakat di daerah Semarang, Jepara, Kudus atau bahkan Salatiga yang memiliki definisi lain tentang makna dari tradisi Nyadran. Seperti misalnya pada masyarakat Ungaran Kabupaten Semarang, yang mendefinisikan Nyadran sebagai aktivitas kerja bakti dan bersih desa yang dilakukan masyarakat setiap akhir bulan. Dalam aktivitas tersebut masyarakat berkumpul untuk membersihkan kampung dan ditutup dengan menyantap makanan yang dibawa oleh setiap warga secara bersama-sama. Begitu pula dengan daerah-daerah yang disebutkan diatas, mendefinisikan Nyadran sebagai aktivitas bersih desa.
Hal tersebut diatas tentu berbeda dengan Nyadran ala masyarakat Brebes (Desa Jatirokeh). Nyadran versi ini yakni berkunjung dari rumah ke rumah untuk silaturrahim atau sekedar berkeliling menyapa (Bersalaman) setiap orang di jalan saat lebaran. Aktivitas tersebut lazim dilakukan oleh masyarakat desa Jatirokeh saat selesei melaksanakan sholat idul fitri hingga seminggu sesudahnya (Syawalan). Kebiasaan lain yang dilakukan disaat Nyadran adalah menyantap hidangan ketupat sebagai bentuk penghormatan kepada tamu dan tuan rumah. Lain halnya dengan kebiasaan dibeberapa daerah yang baru menyediakan hidangan ketupat disaat Syawalan (Bodho Ketupat). 
Zaman kian berganti dan masyarakat pun kian berkembang, namun nyatanya hal tersebut tidak menghilangkan tradisi Nyadran. Walaupun hanya berbeda dalam pemaknaan sebuah istilah silaturrahim, namun budaya tersebut tetap lestari dan menjadi cultural identity masyarakat Jatirokeh untuk menyebut aktivitas saling memaafkan di hari raya lebaran itu. Pun jika kita hendak mencari nilai esensialnya, Nyadran bagi masyarakat Jatirokeh dan daerah manapun yang memiliki pemaknaan lain sejatinya memiliki kesamaan. Nyadran adalah upaya untuk mempererat tali silaturrahim diantara masyarakat, dengan kebersamaan dan kekeluargaan yang tercipta menjadi sarana untuk meningkatkan kualitas hubungan antar sesama manusia. Idealnya budaya tersebut mampu tumbuh subur dan berkembang sebagai ciri karakter muslim Indonesia yang sangat menjunjung tinggi silaturrahim, sehingga konflik dan gesekan dimasyarakat dapat diminimalisir bahkan dihilangkan. (Laporan Mohammad Andi Hakim)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

@andi_assidqi