Lembaga Pendidikan dan Pelatihan
Gubuk Ilmu Sahabat Fikir
1. Latar Belakang
Lembaga pendidikan dan pelatihan (LPK) Gubuk Ilmu Sahabat Fikir (GISAF) adalah lembaga yang berdiri pada 17 agustus 2014 tepat di hari kemerdekaan republik Indonesia ke 69. Semangat kemerdekaan menjadi spirit tersendiri dalam upaya berdirinya lembaga ini. Institusi yang sejatinya fokus pada upaya mewujudkan manusia yang merdeka seutuhnya, dan hidup tanpa diskriminasi.
Terdengar aneh dan nyleneh ketika orang mendengar istilah GISAF. Namun jika kita hendak mencari makna yang terkandung dibalik nama tersebut, mungkin pandangan kita menjadi lain. Gubuk identik dengan kesederhanaan, kesejukan dan terbuka luas menjangkau dunia. Artinya dari kesederhanaan lembaga ini, kita dapat mengkaji ilmu dengan menyenangkan, sejuk, dan tidak terbatas tembok ruang dan waktu. Sehingga khazanah keilmuan dunia mampu dijangkau dari tempat yang sangat Indonesia, yakni Gubuk.
Ilmu seperti perintah agama diwajibkan untuk dicari, karena dengan ilmu manusia menjadi lebih berharga dimata Tuhan dan manusia lainya. Selain orang yang beriman, orang yang berilmu juga dijanjikan untuk ditingkatkan derajatnya oleh Tuhan. Oleh karenanya GISAF memilih kata ilmu, karena maknanya yang sangat dalam.
Sahabatdipilih untuk menjadi diksi berikutnya, karena kata tersebut memiliki makna yang yang lebih mendalah dibanding teman atau saudara. Sahabat dalam dimensinya memiliki keterikatan kultural yang lebih erat, artinya sahabat tidak mudah untuk meninggalkan sahabatnya yang lain. Sahabat selalu mampu mendampingi dikala suka dan duka serta mampu berkorban tanpa pamrih untuk kepentingan bersama. Seperti itulah konsep sahabat fikir, seperti pada penjelasan berikutnya.
Fikiratau berfikir merupakan hal yang sangat dianjurkan oleh agama. Manusia memiliki kewajiban untuk berdzikir, berfikir dan beramal sholeh. Oleh karenanya berfikir merupakan hal yang juga penting selain beribadah. Upaya tersebut adalah sarana untuk menjadi manusia yang berilmu. Berfikir berarti mengasah kinerja otak untuk menafsirkan nilai-nilai ketuhanan di alam semesta ini. Hal tersebut juga merupakan peran manusia sebagai khalifah di bumi untuk memanfaatkan dan mengkaji segala ciptaan Tuhanya, untuk kemudian memberikan manfaat kebaikan bagi sesamanya dan alam semesta.
Menitik beratkan perhatianya pada pengembangan pendidikan dan pelatihan, GISAF berupaya turut andil dalam memajukan peradaban bangsa. Melalui pendidikan yang memanusiakan manusia serta menghargai potensi alamiah yang dimiliki setiap anak, GISAF bertekad untuk menyajikan suasana pendidikan yang berkeadilan. Oleh karenanya, lembaga ini mengambil jargon sebagai visi yang juga ingin dicapai oleh GISAF, yakni Inspiring and Building Cultural Learning Society.
Jargon tersebut secara filosofis memuat makna yang teramat dalam. Lembaga ini memiliki tujuan besar dalam upaya menginspirasi dan membangun masyarakat pembelajar yang berbudaya. Konsep pendidikan berbasis masyarakat memang menjadi salah satu pondasinya, artinya hal tersebut relevan dengan visi GISAF. Masyarakat pembelajar berarti terdapat peran serta masyarakat secara aktif untuk terlibat dan “mau” belajar. Sehingga nantinya iklim dan suasana belajar tidak dapat terpisahkan dari masyarakat.
Masyarakat pembelajar tidak berarti apapun jika peranya tidak didasari dengan karakter ke-Indonesia-an yang dimiliki. Budaya merupakan pondasi yang kuat dalam pembentukan karakter dan jati diri bangsa. Tanpa budaya adi luhur bangsa, manusia Indonesia hanya bak debu yang terombang-ambing oleh angin peradaban. Oleh karenanya aspek budaya juga tidak kalah penting dalam upaya mewujudkan visi GISAF.
GISAF mengajarkan “sahabat fikir” (sebutan anggota GISAF) memaknai pendidikan bukan sekedar persiapan untuk hidup, namun lebih dari itu yakni memahami pendidikan sebagai hidup itu sendiri. Sehingga sahabat fikir belajar didasari oleh cinta dan passion, bukan karena paksaan atau “asal” belajar. Karena bagi GISAF ilmu bak cahaya yang akan menerangi kehidupan umat manusia, menjadi manusia yang berperadaban.
2. Kerangka Konsep
Konsep GISAF
Sebagai lembaga yang fokus pada pendidikan dan pelatihan, GISAF memiliki rangka konsep berfikir sebagai berikut :
a. Merupakan penanaman konsep membangun pribadi baru yang hebat menuju pribadi mulia.
b. Konsep pendampingan pendidikan & training masyarakat secara komprehensif serta berkepribadian
c. Memadukan konsep learning society dan wirausaha sosial untuk mewujudkan masyarakat terdidik & mandiri
d. Pendidikan dan pelatihan berbasis karakter dan berorientasi pada pengembangan potensi yang dimiliki.
Landasan Kerja GISAF
Untuk mewujudkan visi tersebut GISAF berlandaskan pada beberapa hal, diantaranya :
a. Amanat konstitusi (Pembukaan UUD 1945), tentang hak dasar pendidikan bagi seluruh warga negara
b. Kullu mauludin yuladu alal fitrah, bahwa hakikatnya setiap manusia dilahirkan dalam keadaan suci.
c. Implementasi konsep education for all yang anti diskriminasi dan long life education
d. Kesadaran untuk memanusiakan manusia (Humanity in education)
e. Antitesis proyek kapitalisasi pendidikan nasional
f. Kesadaran bahwa setiap anak dilahirkan dengan potensi dan kecerdasan alamiah
3. Metode Pendidikan dan Pelatihan
Metode yang dikembangkan GISAF dalam proses pendidikan dan pelatihanya adalah GISAF Taxonomy, yang berorientasi pada pengembangan soft skill, hard skill dan keilmuan sahabat fikir. Metode tersebut tentu mencakup beberapa aspek penting dalam dimensi perkembangan kemampuan berfikir manusia, yaitu kognitif, afektif dan psikomotor. Selain itu, karakter juga menjadi perhatian penting yang terintegrasi kedalam kurikulum pendidikan dan pelatihan GISAF.
Soft Skills menjadi salah satu fokus dalam proses pendidikan dan pelatihan di GISAF. Aspek tersebut berorientasi pada pengembangan kemampuan sahabat fikir dalam keterampilan non fisik, seperti leadership, ke-organisasi-an dan managemen kelembagaan. Sahabat fikir diajari berbagai teori yang memadai serta pendampingan praktik untuk mengembangkan kemampuan tersebut.
Hard Skills juga penting untuk diperhatikan. Selain mengembangkan kemampuan non fisik, sahabat fikir juga dapat mengkaji serta mempelajari kemampuan fisik yang masih relevan dengan wawasan keilmuan. Seperti misalnya pelatihan jurnalistik, penelitian/riset, karya ilmiah dan komputer. Sehingga sahabat fikir dapat memiliki bekal yang memadai dalam mengimplementasikan ilmunya dalam praktik di masyarakat.
Keilmuan berarti bimbingan yang dilakukan oleh GISAF sebagai upaya memberikan pemahaman yang lebih maksimal dan komprehensif terhadap materi-materi pelajaran di sekolah setingkat SD/MI hingga SMA/MA/SMK. Bimbingan belajar yang diberikan diantaranya, pendidikan agama, bahasa inggris, bahasa arab, MIPA (matematika dan IPA) dan bahasa Indonesia. Harapanya agar sahabat fikir mampu menambah keilmuan serta kemampuan dalam menyerap serta memahami materi dalam mata pelajaran sekolah.
Oleh karena itu, dalam pelaksanaanya GISAF menaruh perhatian penting pada beberapa hal, diantaranya :
a. Kurikulum dirancang dengan masyarakat sebagai basisnya
b. Mengajarkan 3 skill unggulan yang diberikan dibeberapa jenjang
c. Menggunakan pendekatan yang komunikatif & menyenangkan
d. Internalisasi konsep GISAF menjadi manusia terdidik dan humanis
e. Merubah pola fikir masyarakat untuk maju & terdidik

Tidak ada komentar:
Posting Komentar