International Conference on Language, Culture and Society 2015 LIPI Indonesia, Jakarta 25-26/11/2015;
Ilmu itu ibarat sebuah pohon, yang akan berbuah jika ia diamalkan. Ilmu tanpa amal, ibarat pohon yang tidak berbuah, sedangkan amal tanpa ilmu, ibarat menanti buah tanpa adanya pohon. Pernyataan itu berterima bagiku, tentang tanggung jawab berilmu pengetahuan, bahwa ilmu berangkat dari masyarakat, & harus memberi manfaat bagi pemberdayaan masyarakat.
Menuntut ilmu adalah taqwa, menyampaikan ilmu adalah ibadah,
mengulang-ulang ilmu adalah dzikir, mencari ilmu adalah jihad. Mencoba mengamalkan hal tersebut, Tuhan memberiku kesempatan untuk berdialog ilmu dengan ahli-ahli bahasa yang masyhur di Indonesia & dunia. Belajar dari Prof. I Wayan Arka, PhD, Prof. Asako Shiohara, PhD, Dr. Sebastianus Fernandez & Dr. Nurhayati, M.Hum, memberiku ruang auto-critic tentang bagaimana seharusnya menjadi linguist yang memasyarakat.
mengulang-ulang ilmu adalah dzikir, mencari ilmu adalah jihad. Mencoba mengamalkan hal tersebut, Tuhan memberiku kesempatan untuk berdialog ilmu dengan ahli-ahli bahasa yang masyhur di Indonesia & dunia. Belajar dari Prof. I Wayan Arka, PhD, Prof. Asako Shiohara, PhD, Dr. Sebastianus Fernandez & Dr. Nurhayati, M.Hum, memberiku ruang auto-critic tentang bagaimana seharusnya menjadi linguist yang memasyarakat.
Sekali lagi, bahwa ilmu akan mati jika ia tidak kita tuliskan (Penelitian). Karena ia seumpama air yang mengalir dari gunung ke lembah. Tadahlah dengan hati yang merendah ketika menuliskanya, sehingga tak sekedar menyisakan kesombongan, namun juga kebijaksanaan.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar