Franz Boaz dan Edward Sapir muridnya, mengajari kita teorema relativitas kebahasaan. Kajian antropolinguistik tersebut menggeser paradigma bahwa tanpa memahami bahasa, manusia tidak akan mampu memahami budaya. Bahasa merupakan alat untuk mengungkapkan ide, gagasan, dan pemikiran manusia yang membentuk kebudayaan. Bahasa yang berkembang mencerminkan kebudayaan masyarakatnya.
Seperti menulis, kreativitas mengelaborasi beragam pemikiran dan himpunan ide mencerahkan, merefleksikan budaya ‘knowledge society’ yang bergairah. Melalui transkripsi kebahasaan (tulisan/penelitian) mampu mereproduksi budaya masyarakat yang ‘nafsu’ akan ilmu pengetahuan dan memiliki kesungguhan untuk membangun peradaban.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar