"Generasi saat ini sukar diajak melakukan lompatan futuristik & berfikir akseleratif." Begitu kiranya pesimisme yang muncul, merespon dunia yang kian menumbuhkan kebenaran subjektifnya. Kebenaran objektif (seperti kebenaranNya) dianggap tidak pernah ada seperti dalam narasi-narasi Fairclough & Teun A Van Dijk.
Kita Lebih suka selfie & bertindak sangat teknologis/robotik. Kian hilang rasa & cipta, yang ada hanya karsa penuh stigma. Kian mandeg hati & fikir, yang ada hanya laku ke-aku-an ku. Kita lebih sering 'pamer' kemapanan, kesuksesan, kesejahteraan dibanding membaginya dengan penuh kesederhanaan & kesahajaan.
Kita enggan memupuk seperangkat etos hidup, mindset, dan wawasan pengetahuan yang visioner dan revolusioner. Mari Lanjutkan menunda segala hal baik, hingga kita benar purna. Mungkin demikian hidup yang dikehendaki generasiku, yang konon kekinian.
Tapi tidak dengan generasi muda penerusku, mereka harus 'selamat' jiwa, akal & tubuh (perilaku) nya. Masih ada waktu sebelum kita benar-benar menggulung 'tikar' peradaban kita...




Tidak ada komentar:
Posting Komentar