Allahu Akbar...Allahu Akbar Walillahil Hamdu.. Gema takbir berkumandang menyeruak ke angkasa menyambut datangnya hari raya Idul Adha. Salah satu hari besar umat Islam tersebut rutin dilakukan dan meriah dengan ke khasanya. Yah, hari raya tersebut penulis kerucutkan pada pemaknaan dua hal besar, diantaranya hari raya haji dan hari raya kurban. Hal tersebut relevan menjadi topik pembahasan yang menarik dan disampaikan disetiap khutbah sholat Idul Adha.Namun kali ini, penulis coba membahasnya dalam kaitanya dengan konteks pendidikan. Sehingga dengan semangat Idul Adha mampu menjadikan peserta didik memiliki semangat untuk beribadah dan berkurban bagi mereka yang lemah. Dalam ranah ini tentu tidak tepat jika kita mengajarkan kepada anak untuk melakukan ibadah haji dan berkurban binatang ternak, karena hal tersebut tidak semua dapat dilakukan oleh anak saat itu juga, mengingat anak belum memiliki penghasilan sendiri. Berbeda jika anak diproyeksikan kepada hal tersebut jika kelak hidup berkecukupan. Sehingga manifestasi nilai-nilai luhur dari sejarah dan ajaran Idul Adha mampu dimaknasi secara lebih substansial dan mengarah pada nilai-nilai yang relevan bagi anak.
Merefleksikan pada tauladan yang ditunjukan Ibrahim ketika diminta oleh Allah SWT untuk menyembelih anak kesayanganya Ismail, hal tersebut mengajarkank kepada kita tentang keimanan, ketakwaan serta kesabaran seorang Ibrahim. Bahwa tiada alasan untuk menolak perintah Allah, meskipun harus mengorbankan nyawa putranya. Belajar dari peristiwa tersebut, pendidikan kita seharusnya mengarah juga pada contoh yang diajarkan oleh Ibrahim. Bahwa anak harus memiliki keimanan yang kuat atas agama yang dipeluknya dan tidak taqliddalam berkeyakinan. Tentu hal tersebut membutuhkan fasilitasi yang intensif dari keluarga, sekolah dan lingkungan sosial dalam membentuk karakter anak menjadi seorang pemeluk agama yang taat.
Selain itu karakter penyabar dan tulus serta ikhlas menjadi bingkai yang kelak dimunculkan dari pemahaman agama yang baik. Hal tersebut sekarang menjadi krisis karena lunturnya karakter muslim timur yang penyabar. Dari peristiwa tersebut juga ada keteladanan yang ditunjukan oleh Ismail, seorang putra sholih yang begitu patuh terhadap perintah Ibrahim, sang ayah. Peserta didik seharusnya memiliki kesadaran yang baik untuk menghormati dan menghargai orang tua, dalam hal ini keluarga dan pendidik di lembaga pendidikan. Melalui keteladanan yang diberikan oleh seorang pendidik, seharusnya mampu menjadikan anak menjadi seorang yang taat, bukan justru menjadi pemberontak yang memperjuangkan kesalahanya.
Disamping itu, kita diajarkan tentang makna berkurban di hari raya ini. Tentu berkurban tidak selamanya dimakanai sebagai aktivitas memberi daging binatang ternak untuk fakir miskin. Kaitanya dengan pendidikan, hal tersebut dapat kita maknai sebagai pembelajaran moral bagi peserta didik untuk peduli dengan orang lain. Implikasinya ada pada pengembangan salah satu dimensi kecerdasan anak, yakni interpersonal. Kompetensi tersebut berpengaruh besar pada tingkat kepedulian sosial anak untuk berbagi bersama orang lain yang membutuhkan.
Dengan tauladan yang diberikan oleh agama tentang aktivitas berkurban, sepatutnya hal tersebut mampu menjadi manifestasi bagi pemahaman anak untuk memaknai secara mendalam hakikat dari berkurban. Sehingga tidak lagi muncul anggapan bahwa anak harus terlebih dahulu memiliki kecakapan finansial jika hendak berbuat baik. Karena perbuatan baik dimata Tuhan tidak semata-mata diukur dari faktor harta semata, namun juga keikhlasan dan ketulusan saat melakukanya. Besar kecilnya nilai dari perbuatan baik tetaplah perbuatan baik, dan selalu ada reward yang diberikanNya untuk mereka yang melakukan.
Dari dua hal kecil yang penulis sertakan dalam tulisan ini tentang hari raya Idul Adha, bertujuan agar sebagai pendidik kita tidak hanya terhenti pada tataran normatif dalam menjelaskan makna sejarah masa lalu. Sejarah nabi tidak hanya difahami secara tekstual seperti dongeng yang berlalu ditelinga setiap anak, kemudian mudah untuk dilupakan. Namun seharusnya, nilai-nilai yang terkandung dalam sejarah para Nabi mampu menjembatani proses internalisasi dari setiap anak dalam menangkap makna sejarah, dengan tentunya melalui uswah yang baik dari pendidiknya. Sehingga anak memiliki pemahaman yang memadai tentang setiap aktivitas keagamaan yang dilakukan, dan kelak mampu menerapkanya didalam kehidupan.
Mohammad Andi Hakim
Tidak ada komentar:
Posting Komentar