Nusantara (archipelago) bak tanah surga, seperti kata Koes Ploes dalam lagunya. Negeri yang tersusun dari hamparan 17.600 pulau tersebut kokoh menyapa zaman dan tegak berdiri dalam konstruksi sejarah yang matang. Bahkan dibeberapa sumber penelitian memberikan hipotesis bahwa negeri ini adalah negeri Atlantis yang merupakan muara dari peradaban kelautan umat manusia. Hal tersebut tidak mustahil memang, jika melihat kenyataan bahwa negeri yang 80 % wilayahnya adalah laut tersebut tetap dapat bersatu menjadi sebuah bangsa yang besar dan kuat. Imagined Community tertanam sebagai nalar dan sikap dari setiap penduduknya, sehingga tidak heran jika pluralitas budaya tidak menjadi pemisah, bahkan justru meperkaya khazanah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kembali pada konteks kelautan, jika melihat fakta sejarah jauh sebelum era kemerdekaan kita pernah merasakan kejayaan pada sektor maritim pada masa kerajaan Sriwijaya (Abad ke 7 hingga abad ke 13). Melalui jargon yang kini juga dipakai sebagai semboyan oleh TNI Angkatan Laut kita yakni Jaselveva Jayamahe (Di Laut Kita Jaya), Sriwijaya menjelma menjadi sebuah kerajaan yang mampu menjangkau beberapa wilayah hingga bagian barat Nusantara. Kerajaan ini mencapai puncak kejayaanya pada masa pemerintahan Balaputradewa, Putra Samaratungga dari Dinasti Syailendra yang memerintah di Jawa bagian tengah tahun 812-824. Dengan armada lautnya yang kuat Sriwijaya mampu menguasai lalu lintas perdagangan antara India dan Tiongkok, serta menduduki semenanjung Malaya yang kini bernama Malaysia.
Selain Sriwijaya, kerajaan Majapahit (1293-1400) juga pernah memiliki sejarah emas kaitanya dengan penguasaan maritim. Kerajaan yang berpusat di Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur tersebut mencapai puncak kejayaan dengan menguasai seluruh wilayah Nusantara pada masa kekuasaan Raja Hayam Wuruk (1350-1389) yang dibantu oleh sang Maha patih Gajah Mada. Gajah Mada yang juga popular dengan sumpah amukti palapa nya untuk mempersatukan seluruh wilayah Nusantara. Bahkan kegemilangan Majapahit dapat kita jumpai dalam kitab Negarakertagama, yang menyebutkan bahwa wilayah kerjaan ini terbentang di Jawa, Sumatra, Kalimantan, Indonesia bagian timur, bahkan hingga semenanjung Malaya.
Jika kita membaca fakta sejarah tersebut, sebenarnya kita patut bangga dan tercengang. Lantas muncul dibenak kita sebuah pertanyaan, bagaiamana dengan kondisi Negara kita sekarang? Khususnya pada pengembangan sektor kemaritiman. Tentu masing-masing dapat merefleksikan, dan pada akhirnya sampai pada sebuah kesimpulan bahwa kita terlalu lama mengacuhkan sektor kelautan dan segala macam kekayaanya. Mulai dari masa kemerdekaan hingga kini sektor maritim hanya dijadikan sebagai second agenda dari setiap kebijakan yang diproduksi negara. Namun harapan baru muncul dengan pemerintahan baru yang menjadikan maritim sebagai fokus utama pemerintahan.
Banyak pekerjaan rumah yang mesti diseleseikan oleh pemerintah baru. Bukan hanya produk kebijakan yang menjadi orientasi, namun konsep, dasar, filsafat dan arah kebijakan yang lebih dulu harus disiapkan. Sehingga kita mempunyai landasan yang kokoh dalam upaya mengembalikan Nusantara sebagai poros maritim dunia. Pemahaman tentang sejarah bangsa dan interpretasi terhadap landasan idiil serta konstitusional kita mutlak diperlukan dalam merumuskan kebijakan kemaritiman.
Selain itu yang perlu dilakukan adalah memperkuat armada laut kita, dengan perbaikan alutista Angkatan Laut sebagai benteng pengaman wilayah maritim. Kemudian sektor transportasi dan arus hilir mudik transakasi antar wilayah harus difasilitasi dengan baik, misalnya dengan gagasan tol laut yang akan dibangun oleh pemerintahan baru. Sehingga tidak lagi terjadi kesenjangan harga barang diantara wilayah Nusantara yang disebabkan oleh mahalnya biaya transportasi.
Lebih lanjut, diperlukan kebijakan-kebijakan yang kuat dan mengikat serta tegas dalam upaya maksimalisasi kekayaan laut kita, sehingga tersistematisir pengelolaan kekayaan laut dan aturan hukum yang kuat bagi setiap pelanggaran yang terjadi. Karena menurut sumber dari FAO, Indonesia mengalami kerugian 100 triliun setiap tahunya karena ilegal fishing, yang merupakan salah satu komoditas penting dari wilayah laut kita. Melaui kerjasama yang baik dari setiap elemen terkait (Negara) bersama seluruh lapisan masyarakat untuk menjaga, melestarikan dan mengolah wilayah laut kita secara arif dan bijak, bukan mustahil jika kita mampu kembali menjadi negara yang berjaya di Laut, dan hipotesa dari beberapa ahli tentang Nusantara sebagai Atlantis yang terpendam benar adanya. Kita patut berbangga.
_Mohammad Andi Hakim_
Tidak ada komentar:
Posting Komentar