Materi Diskusi



Social Analysis ; Sebuah Pengantar[1]

Mohammad Andi Hakim[2]

Didalam kehidupan kita tidak dapat melepaskan diri dari peran dan fungsi sebagai makhluk sosial. Artinya, manusia merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari interaksi, komunikasi, hingga aktivitas-aktivitas yang bersentuhan dengan manusia yang lain dan juga lingkunganya. Dari kegiatan-kegiatan sosial tersebut, terkadang memunculkan masalah-masalah sosial yang melibatkan semua unsur dalam pranata sosial. Pranata sosial tersebut dimiliki dalam suatu struktur masyarakat tertentu, dan memegang tradisi serta keyakinan yang berakar kuat didalamnya.
            Jika dikontekstualisasikan dengan analisis sosial, kita terkdang memiliki kelemahan untuk membedah problem sosial, sampai pada proses untuk menguraikanya. Upaya analisis yang dilakukan idealnya mampu menemukan latar belakang masalah, pengaruh kepentingan didalamnya, dan implikasi logis yang akan ditimbulkan dari masalah tersebut. Kendala-kendala tersebut dapat mengemuka karena disebabkan oleh keterbatasan kemampuan untuk memetakan variabel yang saling mempengaruhi. Untuk itulah analisis sosial mengambil peranya untuk memberikan wawasan kepada kita agar mampu membaca realitas sosial secara komprehensif dan radikal.
Mengenal Analisis Sosial
Ansos dapat difahami sebagai usaha untuk menganalisis sesuatu keadaan atau masalah sosial secara objektif, upaya ini kita lakukan untuk menempatkan suatu masalah tertentu dalam konteks realitas sosial yang lebih luas yang mencakup konsep waktu (sejarah), konteks struktur (ekonomi, sosial, politik, budaya, konteks nilai, dan konteks tingkat atau arah lokasi, Yang dalam prosesnya analisis sosial merupakan usaha untuk mendapatkan gambaran yang lengkap mengenai hubungan-hubungan struktural, kultural dan historis, dari situasi sosial yang diamati
Lantas, apa kemanfaatan analisis sosial bagi mahasiswa? . Mahasiswa sebagai bagian dari kehidupan sosial tentu tidak bisa mengacuhkan pandanganya terhadap fenomena-fenomena sosial yang terjadi. Kesan yang melekat pada kaum ini adalah sebagai agen perubahan sosial dan perekayasa sosial. Predikat tersebut tentu harus diimbangi dengan kemampuan yang mumpuni dalam memetakan dan menguraikan permasalahan sosial, sehingga hasilnya dapat memberikan manfaat bagi masyarakat. Ketidak mampuan dalam memahami dan mengembangkan kompetensi untuk menganalisa permasalahan sosial justru menjadi penghambat kaum ini untuk melakukan perubahan-perubahan sosial.

            Selain itu, jika mengacu pada beberapa materi yang lazim dsampaikan dalam Pelatihan Kader Dasar (PKD) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), kita juga menikmati materi tentang paradigma gerakan PMII. Beberapa literasi menjelaskan tentang paradigma tersebut dan internalisasinya pada arah gerakan lembaga ini. Kita tentu fasih dan mengenal betul dengan paradigma kritis transformatif. Tulisan ini tidak bermaksud untuk menjelasakan secara detail tentang sejarah paradigma sampai pada muatan-muatas ideologis didalamnya. Namun jika dikaitkan dengan analisis sosial, hal tersebut tentu sangat relevan sebagai dasar dalam setiap aktivitas ilmiah yang dilakukan.
Kritis artinya, kader PMII dituntut untuk peka dan mampu membaca realitas sosial secara objektif melalui telaah kritis yang didasarkan pada pemahaman intelektual yang baik. Transformatif berarti, selain kritis dalam mengkaji realitas sosial yang terjadi, kader PMII juga dituntut memberikan keterlibatan aktif nya dalam aksi nyata untuk melakukan perubahan sosial. Strategi gerakan PMII akan berjalan dengan maksimal jika ditopang dengan kematangan analisis sosial kadernya, untuk benar-benar mewujudkan paradgma kritis transformatif tersebut. Hal tersebut tentu dibangun dengan menciptakan kesadaran kritis yang tinggi pada setiap kader tentang realitas sosial. Kesadaran kritis tidak dapat dibangun dalam waktu yang singkat, namun kader begitu urgen untuk memiliki wawasan yang luas dalam memahami realitas sosial. Finalisasinya, untuk dapat melakukan pembacaan realitas sosial secara kritis, sudah menjadi keharusan bagi kader untuk memiliki kemampuan analisis sosial yang baik.

Ruang Lingkup Analisis Sosial
            Jika melihat cakupan yang begitu luas dari realitas sosial, tentu semua hal yang berkaitan dengan aktivitas-aktivitas manusia yang saling bersinggungan dalam suatu masyarakat dapat dianalisis. Namun jika dikerucutkan pada konteks transformati sosial, maka objek yang dianalisis dalam ansos harus sejalan dengan target perubahan sosial yang direncanakan dan diharapkan yang sesuai dengan visi serta misi dari organisasi. Secara umum objek sosial yang dapat dianalisis, diantaranya :[3]
o        Social Problems, seperti; kemiskinan, pelacuran, pengangguran, & kriminilitas
o        Social System, seperti: tradisi, usha kecil atau menengah, sistem pemerintahan, sitem pertanian
o        Social Institutions, seperti sekolah layanan rumah sakit, lembaga pedesaan, NU, Muhamadiyah, PII.
o        Public Policy,  seperti : dampak kebijakan BBM, dampak perlakuan sebuah UU
Langkah-Langkah Analisis Sosial
            Proses analisis sosial meliputi beberapa tahapan, diantaranya :[4]
a.      Memilih dan menentukan objek analisis sosial
Pemilihan sasaran masalah harus berdasarkan pada pertimbangan rasional dalam arti realitas yang dianalisis merupakan masalah yang memiliki signifikansi sosial dan sesuai dengan visi dan misi organisasi
b.      Pengumpulan data atau informasi penunjang
Untuk dapat menganalisis masalah secara utuh, maka perlu didukung dengan data dan informasi penunjang yang lengkap dan relevan, baik melalui dokumen media massa, kegiatan observasi maupun investigasi langsung dilapangan. Pengecekan kembali data dan informasi mutlak harus dilakukan untukmenguji validitas data.
c.       Identifikasi dan analisis masalah
Merupakan tahapan analisis terhadap objek berdasarkan data yang telah dikumpulkan. Pemetaan beberapa variabel, seperti keterkaitan aspek politik, ekonomi, budaya dan agama yang dilakukan pada tahapan ini. Melalui analisis secara komprehensif, diharapkan dapat memahami substansi masalah dan menemukan kesaling terkaitan antar aspek yang dikaji.

d.      Mengembangkan persepsi
Setelah melakukan identifikasi berbagai aspek yang mempengaruhi atau terlibat dalam masalah, selanjutnya dikembangkan presepsi atas masalah sesuai cara pandang yang objektif. Pada tahap ini akan muncul beberapa kemungkinan implikasi konsekuensi dari objek masalah, serta pengembangan beberapa alternatif sebagai kerangka tindak lanjut.

e.       Menarik kesimpulan
Pada tahap ini telah diperoleh kesimpulan tentang akar masalah, pihak mana saja yang terlibat, pihak yang diuntungkan dan dirugikan, akibat yang dimunculkan secara politik, sosial dan ekonomi serta paradigma tindakan yang bisa dilakukan untuk proses perubahan sosial.
Rekayasa Sosial
            Seperti penulis jelaskan diawal bahwa analisis sosial merupakan salah satu langkah yang digunakan untuk menyelesaikan masalah-masalah sosial. Selain itu, analisis sosial juga memberikan pengaruhnya bagi kita untuk melakukan rekayasa sosial. Apa yang dimaksudkan dengan rekayasa sosial?. Rekayasa sosial secara konseptual merupakan konsep netral yang mengandung makna upaya mendesain suatu perubahan sosial sehingga efek yang diperoleh dari perubahan tersebut dapat diarahkan dan diantisipasi. Konsep tersebut menunjuk pada sebuah upaya untuk mendesain dan mengkondisikan terjadinya perubahan struktur, dan kultur masyarakat secara terencana.
            Rekayasa sosial merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan untuk menciptakan masyarakat yang bersih, kuat, disiplin dan berbudaya. Dalam prinsip berfikir sistem, perubahan yang signifikan hanya dapat dilakukan oleh individu dan masyarakat itu sendiri, bukan hanya menunggu peran struktur. Untuk membentuk struktur yang kuat diperlukan elemen kebaruan (emergent properties) yang lahir dari individu dan komunitas yang sadar dan belajar secara terus menerus (lifelong learner).[5]
            Pangkal dari rekayasa sosial tersebut adalah pada terciptanya perubahan sosial yang terjadi di lingkungan masyarakat. Perubahan sosial idealnya mengarah pada target-terget positif yang menjadi sasaran perekayasa sosial. Jalaludin Rahmat [6]menyebutkan bahwa didalam perubahan sosial diperlukan beberapa strategi, diantaranya : pertama strategi normative reeducative, yang berfungsi untuk menanamkan dan mengganti paradigma berfikir masyarakat yang lama dengan yang baru. Parksisnya adalah dengan mendidik, bukan sekedar mengubah perilaku yang tampak, namun juga mengubag keyakinan dan nilai yang dimiliki suatu masyarakat. Kedua strategi persuasive yang dilakukan dengan penggalangan opini dan pandangan masyarakat yang utamanya dilakukan melalui media massa dan propaganda. Praksisnya adalah dengan membujuk atau mempengaruhi melalui suatu bentuk propaganda ide atau hegemoni ide. Ketiga perubahan sosial yang terjadi karena revolusi atau people power. Karena revolusi dianggap sebagai jalan terakhir dari semua bentuk perubahan sosial, karena sifatnya yang menyentuh segenap sudut dan dimensi sosial dan mengundang gejolak dan emosional dari semua orang yang terlibat didalamnya.
            Melalui kajian ini diharapkan kader PMII memiliki kecakapan yang matang untuk mengurai masalah-masalah sosial yang terjadi di lingkungan sekitar. Keacuhan terhadap permasalahan sosial berati sudah kian membunuh rasa kepedulian terhadap perjuangan kaum marginal. Amarah dan keluh kesah bukan menjadi solusi akan ketimpangan-krtimpangan sosial yang terjadi, melainkan dengan meresponya melalui pengetahuan dan sistematika berfikir kritis untuk menjadi problem solver.
Daftar Pustaka
Jalaludin Rahmat, 2000, Rekayasa Sosial, Bandung: Rosdakarya
Modul materi diskusi pengurus Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon Tarbiyah Komisariat Walisongo Semarang pada Departemen Kaderisasi, tahun 2010
Team Analisa dan Rekayasa Sosial (Materi PKD 2010), Analisis Sosial, (PMII Rayon Syariah IAIN Sunan Ampel Surabaya) pmiisyariah.blogspot.com, diakses pada 9 Maret 2015


[1]Tema yang disampaikan dalam diskusi persiapan Pelatihan Kader Dasar (PKD) oleh Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon Abdurrahman Wahid Komisariat Walisongo Semarang, Selasa 10 Maret 2015 bertempat di Kampus 2 UIN Walisongo Semarang. Tema tersebut berupaya untuk menjelasakan meskipun tidak secara utuh tentang pentingnya analisis sosial untuk digunakan sebagai alat untuk merekayasa sosial. Ketajaman analisa akan memberikan dampak positif setiap usaha rekayasa. Hakekatnya dalam analisa harus mengetahui secara mendalam kondisi Internal dan Kondisi Ekternal beserta kemungkinan-kemungkinan alternatifnya baik yang menguntungkan atau merugikan.
[2] Mahasiswa Pascasarjana Universitas Diponegoro pada program studi Magister Ilmu Linguistik, dan anggota dari LSM Pendidikan dan Kebudayaan ICES Semarang.
[3] Dikutip dari modul materi diskusi pengurus Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon Tarbiyah Komisariat Walisongo Semarang pada Departemen Kaderisasi, tahun 2010.
[4] Team Analisa dan Rekayasa Sosial (Materi PKD 2010), Analisis Sosial, (PMII Rayon Syariah IAIN Sunan Ampel Surabaya) pmiisyariah.blogspot.com, diakses pada 9 Maret 2015
[5] Ibid, Analisis Sosial, (PMII Rayon Syariah IAIN Sunan Ampel Surabaya) pmiisyariah.blogspot.com, diakses pada 9 Maret 2015
[6]Jalaludin Rahmat, 2000, Rekayasa Sosial, (Bandung: Rosdakarya), Hlm 45

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

@andi_assidqi