Ihtiar Mengatasi Kenakalan Pelajar



Oleh Waliyadin, S.Pd*

Gejala patologi sekolah kian menampakkan wajah garangnya. Sering penulis menyaksikan ucapan dan perilaku anak didik di sekolah maupun di luar sekolah yang tidak mencerminkan keterdidikannya. Mulai dari ucapan, mereka sering berkata kasar dan tak jarang mereka mencaci maki sesama teman bahkan masalah sepele saja bisa menyulut perkelahian.
Di luar sekolah, mereka sudah berani merokok, terkadang ada yang sudah berani minum minuman keras dan mengonsumsi narkoba. Mereka juga memiliki hobi yang menantang maut yaknimemodifikasi sepeda motor kemudian dipakai balapan liar. Meski tidak menyaksikan secara langsung, di Youtubebanyak ditemui video anak-anak usia SMP yang menunjukkan aksi balap liarnya.
Di media sosial, anak-anak juga sering memosting pesan yang melampaui usia belia mereka. Postingan yang tidak sesuai itu misalnya ungkapan rasa rindu seseorang dengan sang kekasihnya sampai makian layaknya orang dewasa yang tengah bertengkar.
Kendatipostingan di media sosial terkadang tidak sesuai dengan kenyataan tetapi karena frekuensi postingannya menunjukkan pola yang hampir mirip maka bisa disimpulkan itu adalah ungkapan hati seorang anak yang tidak bisa disalurkan secara langsung di dunia nyata.
Selain itu, gejala rendahnya motivasi anak untuk belajar juga semakin meningkat. Terbukti, di dalam kelas ketika guru menyampaikan materi pelajaran tak sedikit anak yang tidak peduli dengan apa yang disampaikan guru. Ketika anak diberi Pekerjaan Rumah pun sering tidak dikerjakan. Kalau toh dikerjakan, mereka meminta dikerjakan oleh guru les nya di rumah.
Kerap pula ditemui di jam-jam sekolah, anak-anak justru berada di luar lingkungan sekolah. Ya, Mereka membolos sekolah. Sering penulis tak sengaja menemui ada dua-tiga anak masih berseragam sekolah berada di masjid bukan untuk salat atau beriktikaf melainkan tiduran sembari memainkanhandphone. Banyak juga yang main game online di warnet. Mereka seakan tidak merasa malu melakukan tindakan menyimpang semacam itu.
Tidak bisa dimungkiri, permasalahan kenakalan pelajar sudah muncul sejak dulu. Namun, kondisinya saat ini semakin parah terlebih di daerah urban dengan kondisi sosial dan ekonomi yang kacau.
Melihat permasalahan itu, tentu sebagai orang tua maupun guru tidak bisa berdiam diri. Ya, orang tua dan guru harus mencari akar permasalahannya kemudian mencari cara penyelesaian yang tepat.
Selama ini ada anggapan bahwa kenakalan pelajar disebabkan oleh pengaruh negatif pesatnya perkembangan teknologi dan informasi dan semakin permisifnya tontonan baik yang ada di televisi maupun internet. Anggapan itu memang ada benarnya. Namun, kita tidak bisa menyalahkan pesatnya teknlogi dan informasi begitu saja, mengingat kemajuan teknologipasti membawa dampak positif beserta ekses negatifnya sekaligus. Dan, itu adalah sebuah keniscayaan yang sulit untuk dibendung.


Kenali Perkembangan Anak
Untuk bisa mengatasi permasalahan tersebut kita harus juga menelisik dari sisi perkembangan anakbeserta karakteristiknya. Dengan begitu, akan diperoleh gambaran yang jelas atas permasalahan kenakalan pelajar sehingga nanti bisa diupayakan solusi yang solutif bukan solusi temporal yang justru membawa permasalahan baru.
Dilihat dari sisi perkembangan anak, usia 10½ tahun bagi perempuan dan 12 tahun bagi laki adalah masa puber. Masa puber adalah masa persiapan dimana seorang remaja (adolosens) akan memasuki dunia baru yaitu masyarakat yang kompleks. Sayangnya, banyak orang yang tidak peduli dengan masa transisi itu.Kebanyakan orang beranggapan bahwa masa puber sudah berlangsung sejak lama dan berjalan normal saja (Armstrong, 2006).
Padahal, padamasa puber ada banyak perubahan hormonal, neurologi dan fisik anak. Perubahan itu menyebabkan mood anak tidak stabil, anak lebih agresif, suka memberontak, peka terhadap rangsangan, dan suka meniru sehingga keadaan semacam itu menimbulkan permasalahan serius jika orang tua dan juga guru di sekolah tidak mampu menciptakan lingkungan yang kondusif.
Bagaimana ihtiar untuk mengatasai kenakalan pelajar? Ada beberapa upaya yang bisa dilakukan oleh orang tua dan juga guru di sekolah. Pertama, orang tua harus banyak mawas diri, mengoreksi segala bentuk perilaku yang tidak mendidik yang sering dilakukan di rumah. Perilaku negatif misalnya sering marah-marah atau bertengkar baik dengan istri atau suami atau dengan tetangga perlu untuk dihentikan. Sebaliknya,sebisa mungkin orang tua harus memperbanyak kearifan, kebaikan, dan keadilan supaya orang tua bisa menjadi panutan dan teladan bagi anak-anaknya (Kartono, 2014).
Kedua, bagi guru sebagai pemegang peran kunci pendidikan harus mampu menerapkan pendidikan yang memperhatikan perkembangan anak sebagai manusia seutuhnya. Sekolah jangan hanya berorientasi mencetak lulusan yang memiliki nilai akademik yang tinggi namum justru lebih utama adalah memperhatikan perkembangan emosi, psikologi dan metakognisi anak.
Dalam praktiknya, ada beberapa hal yang bisa dilakukan di sekolahan. Pertama, guru dan staff di sekolahan harus mampu menciptakan iklim sekolah yang aman dan nyaman. Guru harus saling bekerjasama untuk mengatasi keadaan yang mengusik kenyamanan siswa dalam belajar misalnya pembulian, saling mengejek nama orang tua, tindak kekerasan dan penyalahgunaan obat. Untuk itu, sekolah bisa membuat program anti pembulian, membuat peradilan siswa dan resolusi konflik serta mengadakan penyuluhan terkait bahaya penyalahgunaan narkoba dan merokok, kesadaran gang, mediasi antar teman dan managemen kemarahan.
Kedua, mengupayakan ada hubungan personal antara anak dengan guru. Guru di sekolah harus mampu menjadi tempat siswa mencurahkan segala permasalahan yang dihadapi anak. Untuk bisa menjalin hubungan personal yang nyaman, guru perlu membuang jauh muka galak dan tidak bersahabat dengan anak. Kalau guru tetap galak tidak akan mengubah tabiat anak justru sebaliknya mereka akan merasa terancam dan untuk menghindari ancaman itu mereka membuat koloni untuk melawan ancaman itu.
Ketiga, terkait menurunnya motivasi belajar anak, maka guru harus menciptakan pembelajaran yang menarik dan mengupayakan ada relevansinya bagi kehidupan si anak untuk saat ini dan yang akan datang misalnya dengan menerapkan pembelajaran yang berpusat pada siswa, membuat pembelajaran praktik (hands on) dan mengupayakan pembelajaran kerja sama antar siswa supaya kecerdasan interpersonal anak bisa terasah. Berilah siswa pengalaman belajar bukan hanya sekedar memberikan setumpuk materi pelajaran kemudian menyuruh mereka untuk menghafalnya.
Keempat, perlu adanya pendikan karakter dengan cara setiap guru menjadi positiverole model. Pendiddikan karakter akan berhasil jika dilaksankan dengan memberikan contoh secara langsung bukan doktrinasi.
Yang terakhir, guru memberikan kesempatan bagi anak untuk terlibat dalam mengambil keputusan misalnya ketika membuat tata tertib sekolah, siswa diberi kesempatan untuk mengusulkan tata tertib.Dengan begitu, ketika anak melaggar tatatertib, mereka akan benar-benar sadar telah melanggar karena itu adalah hasil kesepakatan mereka. Memang kelihatannya agak repot tetapi itu demi melatih anak bertanggung jawab atas keputusan yang telah diambil. Dibandingkanjika dari pihak sekolah yang membuat tentu akan lebih banyak dilanggarnya.
Tak kalah pentingnya adalah peran masyarakat. Masyarakat harus turut berpartisipasi menghalau kenakalan pelajar dengan ikut serta mengawasi perilaku anak. Jika menjumpai anak-anak yang melakukan tindakan menyimpang jangan segan-segan masyarakat memperingatinya.

*) Guru Bahasa Inggris dan Alumni MTs Ma’arif NU 08 Siandong-Larangan-Brebes, dan salah satu trainer GISAF

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

@andi_assidqi