Tujuh tahun silam, aku berada diantara mereka. Kini, meskipun begitu tidak layak, kesempatan berbagi pengalaman tentang ‘Guru’ hadir padaku, untuk mereka generasi calon pendidik Republik ini.
Bagiku, Guru harus mampu membangun struktur masyarakat yang bermoral bukan hanya pandai menceramahkan moralitas. Mereka yang mendidik anak dengan membuatnya ‘berfikir’ bukan ‘memikirkanya’, mendampinginya ‘menjadi’ apa yang anak inginkan, bukan ‘menjadikanya’ apa yang mereka inginkan.
Guru yang berkembang daya cipta, rasa dan karsa sama baiknya, yang memandu dan mengajari manusia untuk ngerti (head), ngrasa (heart) dan nglakoni (hand) dalam meraih cita dan citra dengan cinta. Mereka yang selain cerdas akal, emosi dan spiritualnya, juga berkembang ‘adversity quotient’ nya untuk mengelola ‘kemalangan’ menjadi ‘kemenangan’.







Tidak ada komentar:
Posting Komentar